Jalin Ikatan Budaya dan Pembangunan, Dua Gubernur Bertemu di Kraton Kilen

harianmerahputih.id
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa didampingi Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kraton Kilen, Yogyakarta, Minggu (27/7)

MERAHPUTIH I YOGYAKARTA - Langit cerah membersamai hangatnya pertemuan dua pemimpin daerah di jantung budaya Jawa. Di balik pagar megah Kraton Kilen Yogyakarta, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertukar pandangan dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebuah pertemuan yang lebih dari sekadar kunjungan kerja, tetapi ikhtiar memperkuat simpul-simpul budaya dan pembangunan antarprovinsi.

Didampingi Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, Gubernur Khofifah tiba di kediaman resmi Ngarsa Dalem pada Minggu (27/7), dan disambut langsung oleh putri kelima Sri Sultan, GKR Bendara, bersama suaminya, KPH Yudanegara. Ikut hadir pula jajaran pejabat DIY, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Imam Pratanadi dan Kepala Dinas Kebudayaan Dian Lakshmi Pratiwi.

Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami

Pertemuan berlangsung secara tertutup, tetapi nuansa kehangatan terasa dalam setiap agenda. Menurut Khofifah, silaturahmi ini bukan hanya seremoni diplomatik, melainkan upaya konkret menjalin sinergi lintas daerah untuk membangun peradaban yang berpijak pada nilai, budaya, dan kebersamaan.

“Beliau (Sri Sultan) bukan sekadar pemimpin daerah, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur budaya Jawa. Ini menjadi kekuatan penting dalam membangun bangsa yang berkarakter,” ujar Khofifah usai pertemuan.

Ia menyebut banyak kesamaan antara Jawa Timur dan DIY. Keduanya memiliki basis budaya yang kuat, tradisi panjang dalam tata kelola berbasis nilai, serta geliat ekonomi kreatif yang kian menjanjikan. “Kita berbicara mengenai kolaborasi lintas sektor dari pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga UMKM,” imbuh Khofifah.

Lebih jauh, Khofifah menekankan pentingnya membangun ketahanan budaya dalam menghadapi era disrupsi. Digitalisasi dan globalisasi, menurutnya, hanya dapat ditaklukkan jika masyarakat memiliki akar yang kuat pada kearifan lokal.

Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan

“Budaya bukan sekadar warisan, tetapi fondasi yang membuat kita tetap tegak saat gelombang perubahan datang. Itulah sebabnya dialog semacam ini penting untuk terus dirawat,” kata mantan Menteri Sosial itu.

Tak hanya menyentuh aspek budaya, pembicaraan kedua gubernur juga mengarah pada pengembangan kerja sama konkret. Di antaranya program promosi wisata bersama, integrasi event budaya, hingga penguatan ekosistem UMKM kreatif yang melibatkan pelaku dari kedua provinsi.

Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Dalam pandangannya, harmoni antardaerah tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Kita tidak bisa hanya mengejar pembangunan material. Harus ada kesadaran kolektif untuk tetap berpijak pada budaya. Inilah yang membedakan kita di tengah dunia yang serba cepat berubah,” ujarnya.

Bagi Sri Sultan, kolaborasi adalah keniscayaan di tengah tantangan kebangsaan yang makin kompleks. Ia percaya, pembangunan Indonesia tidak cukup ditopang oleh kekuatan pusat saja, melainkan juga dari simpul-simpul daerah yang kuat, saling mendukung, dan menjaga nilai-nilai luhur bangsa.

Pertemuan itu memang singkat, tetapi getarannya terasa jauh. Seolah memberi isyarat bahwa pembangunan tidak selalu berbicara tentang beton dan angka, tetapi juga tentang jalinan hati, kebersamaan, dan semangat untuk menjaga jati diri di tengah derasnya arus perubahan. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru