MERAHPUTIH I MOJOKERTO — Sebuah pemandangan tak biasa hadir di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Raden Soerjo, tepatnya di lereng Gunung Lorokan, Rabu (30/7). Puluhan jurnalis yang biasanya sibuk menulis berita dan memburu narasumber, kini menggenggam cangkul dan sekop, menanam 100 bibit pohon buah.
Baca juga: Tarif Murah, Fasilitas Nyaman: Trans Jatim Gajayana Jadi Idola Baru Malang Raya
Langkah mereka tidak sendiri. Aksi ini merupakan bagian dari program konservasi lingkungan dan mitigasi bencana yang digagas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur. Gerakan itu diberi napas semangat: Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita.
“Ini bukan sekadar menanam. Ini adalah simbol keterlibatan semua pihak dalam menjaga bumi,” ujar Dadang Iqwandy, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim. Ia berdiri di antara barisan bibit kelengkeng, jambu, dan nangka yang siap menghijaukan lereng gunung.
Menurut Dadang, langkah kecil ini memiliki makna besar. “Kita ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni. Kami harap jadi gerakan berkelanjutan, diikuti semua elemen,” tambahnya.
Ketua Pokja Wartawan Grahadi, Fatimatuz Zahroh, menilai kegiatan ini sebagai momen penting yang menyatukan peran jurnalis tak hanya sebagai pengawas sosial, tetapi juga pelaku langsung konservasi.
Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami
“Teman-teman wartawan hari ini bukan cuma naik gunung, tapi ikut menjaga masa depan lingkungan. Ini luar biasa,” ujarnya dengan napas bangga. Ia juga mengungkap rencana penanaman lanjutan sebanyak seribu pohon dalam waktu dekat.
Keterlibatan jurnalis dalam kegiatan konservasi seperti ini jarang terlihat di lanskap keseharian pers Indonesia. Namun, inisiatif ini mengingatkan bahwa wartawan tak hanya merekam perubahan, mereka juga bisa jadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Gunung Lorokan pagi itu tak hanya menyambut udara sejuk dan kabut tipis, tetapi juga semangat baru: sinergi antara pena, kamera, dan akar-akaran yang tumbuh pelan tapi pastidi perut bumi.
Baca juga: Kendal Kian Berlari: Gelaran Fun Run Picu Ekonomi, Gairahkan Wisata, dan Tanamkan Budaya Sehat
Jika hutan adalah paru-paru dunia, maka jurnalis yang menanam hari itu adalah bagian dari denyut nadinya. (red)
Editor : Redaksi