MERAHPUTIH I SURABAYA - Mesin investasi di Jawa Timur mulai panas. Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menggeber laju penanaman modal demi mengejar target ambisius Rp147 triliun pada tahun 2025. Hingga pertengahan tahun, capaian investasi di Bumi Majapahit telah menembus angka Rp74,6 triliun, naik 4,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tapi perjuangan belum selesai.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jatim, Dyah Ermawati, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan pondasi kuat untuk mendorong ekonomi daerah. Menariknya, mayoritas investasi ternyata datang dari investor lokal alias Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Baca juga: Jatim Borong Dua Penghargaan Kesehatan Nasional, Bukti Komitmen Jaga Sanitasi dan Lingkungan Sehat
“Dari total Rp74,6 triliun, sebesar Rp51 triliun merupakan PMDN. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp23,6 triliun. Ini membuktikan kepercayaan investor domestik terhadap Jawa Timur sangat tinggi,” ujar Dyah dalam keterangan pers, Rabu (6/8/2025).
Tak hanya modal yang terus mengalir, peta investasi Jatim juga menunjukkan distribusi yang cukup merata. Kota Surabaya masih jadi magnet utama dengan torehan Rp16,4 triliun atau 21,9 persen dari total. Disusul Kabupaten Gresik yang tak kalah agresif dengan Rp16,1 triliun (21,6 persen). Di bawahnya ada Kabupaten Sidoarjo (Rp10,4 triliun), Pasuruan (Rp7,7 triliun), dan Malang (Rp2,6 triliun).
“Dominasi Surabaya dan Gresik sudah bisa ditebak. Infrastruktur, pelabuhan, dan kemudahan akses menjadi nilai plus yang membuat investor nyaman,” tambah Dyah.
Dari sisi sektor, industri makanan menjadi penyumbang terbesar dalam serapan modal. Selain itu, sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran, logistik dan transportasi, serta industri kimia dan farmasi juga menunjukkan geliat yang signifikan.
“Pabrik-pabrik makanan terus tumbuh karena Jawa Timur punya ekosistem kuat dari hulu ke hilir. Akses bahan baku mudah, tenaga kerja tersedia, dan pasar lokal yang besar,” ungkapnya.
Di balik angka PMA, ada sejumlah nama besar yang mencuri perhatian. PT Freeport Smelter di Gresik, misalnya, menjadi salah satu investasi terbesar dari Amerika Serikat yang tengah digarap serius.
Tidak hanya itu, perusahaan asal Singapura, PT Tri Sakti Purwosari Makmur, memperluas operasi di Pasuruan, sementara investor Hong Kong, New Asia Internasional, menanamkan modalnya di Sidoarjo.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Dari Negeri Tirai Bambu, Xinyi Glass Indonesia memperkuat eksistensinya di Gresik, sedangkan Jepang hadir melalui Waitana Karya Pembangunan yang membangun kawasan industri dan hunian di Jember.
Dengan torehan Rp74,6 triliun, Jawa Timur menyumbang 7,9 persen dari total realisasi investasi nasional—cukup untuk menempatkan provinsi ini di urutan ketiga nasional, di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Namun bukan cuma angka yang jadi sorotan. Dari total investasi itu, sebanyak 130.870 tenaga kerja Indonesia berhasil terserap. Artinya, setiap rupiah investasi tak hanya memutar roda ekonomi, tapi juga membuka peluang dan harapan bagi masyarakat.
Meski realisasi semester I cukup menggembirakan, Dyah mengakui bahwa tantangan di semester II tidak ringan. Persaingan antar daerah, fluktuasi ekonomi global, dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor kunci.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Kami terus mendorong percepatan perizinan, menyediakan lahan siap bangun, serta menghubungkan investor dengan kebutuhan lokal. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting,” tegasnya.
Dyah juga menekankan bahwa Jatim tak sekadar mengejar angka, tapi kualitas investasi yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Yang kami kejar bukan hanya nominal, tapi investasi yang berkelanjutan, menyerap tenaga kerja, dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Dengan waktu setengah tahun tersisa, Pemprov Jatim berada di jalur yang cukup solid. Namun, kerja keras dan sinergi lintas sektor akan menjadi kunci untuk menuntaskan ambisi Rp147 triliun hingga akhir tahun. Jika berhasil, bukan tak mungkin Jawa Timur akan mengukir rekor baru sebagai rumah investasi paling menjanjikan di Indonesia. (dpr)
Editor : Redaksi