MERAHPUTIH I JAKARTA — Jakarta barangkali tidak pernah menjanjikan kehidupan yang tenang. Hiruk pikuk lalu lintas, gemuruh suara dari pusat-pusat perbelanjaan, dan dinamika masyarakat urban membuat kota ini terasa berdenyut setiap detik. Namun di tengah kegaduhan itu, dua pria Brasil justru menemukan kedamaian. Bagi Gustavo Franca dan Fabio Calonego, Jakarta bukan sekadar tempat bermain sepak bola, kota ini telah berubah menjadi rumah, dan Persija bukan lagi klub biasa, melainkan keluarga.
Kisah itu mengemuka dalam suasana hangat di malam Rabu (6/8/2025). Di bawah sorot lampu GOR Soemantri Brodjonegoro, dengan jaket oranye dan senyum lebar, keduanya hadir bukan sekadar sebagai pemain asing, melainkan sebagai bagian dari denyut nadi klub Macan Kemayoran. Forum malam itu mempertemukan pemain, pengurus tim, dan perwakilan dari setiap Koordinator Wilayah Jakmania dalam sebuah pertemuan yang tidak biasa penuh keintiman dan semangat kebersamaan menyambut musim baru Liga 1.
Baca juga: PERSIB Bidik Kebangkitan di Pamekasan, Andrew Jung: “Saatnya Bangkit dan Fokus Penuh!”
“Jakarta terasa seperti rumah. Saya merasa memiliki keluarga di sini, dan itu bukan hanya kata-kata. Persija, Jakmania semuanya seperti saudara bagi saya,” ujar Franca, penuh kesungguhan.
Pernyataan Franca mengalir deras dari hati yang tampaknya benar-benar telah melekat pada kota ini. Ia tidak hanya berbicara soal pertandingan atau target gol, melainkan soal perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: komunitas.
Dalam nada suara yang tenang namun mantap, Franca juga menyentuh satu hal yang sering luput dari perhatian publik sepak bola: tentang kesetaraan dan solidaritas dalam skuad. “Di Persija, tidak ada pemain lokal, tidak ada pemain asing. Kami semua adalah satu. Kami adalah Persija. Kami akan berjuang bersama, dan saya yakin, dengan kebersamaan ini, kita bisa menyelesaikan musim dengan senyum lebar,” tegasnya.
Sentimen itu bukan slogan kosong. Terlihat dari cara pemain dan pendukung berinteraksi malam itu tanpa jarak, tanpa sekat. Fabio Calonego, yang baru sekitar dua bulan membela Persija, merasakan hal yang sama. Meski baru mengenal warna oranye kebanggaan klub, semangat kekeluargaan telah merasuk dalam dirinya.
Baca juga: Persebaya Gagal Amankan Kemenangan, Kebobolan di Ujung Laga: Duel Sengit di Lampung Berakhir 1-1
“Saya disambut dengan hangat sejak hari pertama. Bukan hanya oleh rekan-rekan setim, tetapi juga Jakmania. Itu yang membuat saya nyaman. Bahkan keluarga saya di Brasil merasa tenang karena tahu saya berada di lingkungan yang baik,” ungkap Fabio.
Namun, ada satu kalimat yang mengunci perhatian semua yang hadir. Dengan ekspresi serius dan penuh keyakinan, Fabio menegaskan:
“Saya akan menjaga logo Persija seperti saya menjaga keluarga saya sendiri.”
Sebuah janji yang sederhana, namun penuh makna. Janji yang menandai bahwa hubungan ini bukan hubungan kerja semata, melainkan ikatan emosional yang tumbuh dari pengalaman bersama di dalam dan luar lapangan.
Baca juga: PERSIB Fokus Menatap Kebangkitan, Klok: “Dua Pekan ke Depan Penentu!”
Persija memang bukan klub sembarangan. Di balik tekanan ekspektasi dan tuntutan prestasi, ada semangat kekeluargaan yang kuat—sebuah nilai yang terus dijaga oleh manajemen, pemain, dan tentu saja, Jakmania.
Malam itu bukan sekadar seremoni sambutan atau pertemuan formal menyambut kompetisi. Ia adalah potret bagaimana sepak bola bisa menjadi perekat budaya, bagaimana seorang Gustavo Franca dari Brasil bisa merasa betah di Kemayoran, dan bagaimana seorang Fabio Calonego bisa menyamakan nilai lambang klub dengan nilai keluarganya.
Di musim yang akan segera dimulai, mungkin kemenangan dan kekalahan akan datang silih berganti. Tapi satu hal tampaknya sudah pasti: Persija tidak akan berjalan sendiri. Mereka akan berlari bersama dengan pemain yang merasa punya rumah, dan suporter yang merasa memiliki lebih dari sekadar klub: sebuah keluarga. (Jak)
Editor : Redaksi