MERAHPUTIH I SURABAYA – Suasana khidmat bercampur meriah mewarnai Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (17/8). Ratusan masyarakat umum hadir memenuhi lokasi, bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur.
Namun ada yang berbeda pada upacara tahun ini. Untuk upacara tahun ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengundang langsung 10 mantan narapidana teroris (napiter) untuk ikut serta dalam peringatan detik-detik proklamasi di Grahadi Surabaya. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata bahwa pintu kebangsaan selalu terbuka, sekalipun bagi mereka yang pernah berseberangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Usai upacara, para eks napiter itu juga diundang dalam tasyakuran dan ramah tamah bersama Gubernur Jawa Timur, janda perintis kemerdekaan, serta ahli waris keluarga pahlawan nasional.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jawa Timur, Eddy Supriyanto, menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap proses reintegrasi sosial mantan napiter.
“Para eks napiter ini sudah kembali ke NKRI, meski tetap dalam pembinaan dan pengawasan Densus 88. Dalam keseharian, mereka sudah berusaha mandiri, ada yang jualan baju, madu, jamu, bahkan ada yang membuka restoran,” ujarnya.
Menurut Eddy, Jawa Timur saat ini memiliki sekitar 190 mantan napiter. Pemerintah provinsi secara konsisten mengajak mereka untuk hadir dalam peringatan hari besar nasional, terutama HUT Kemerdekaan RI.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Semua ini wujud bahwa Jatim merangkul mereka agar bisa terus bersama-sama merajut kembali kebangsaan dalam bingkai NKRI,” tambahnya.
Salah satu mantan napiter yang hadir, Arif Syaifudin, mengaku bersyukur dapat mengikuti upacara kemerdekaan secara langsung.
“Ini momentum berharga. Kita bisa menghormati para pejuang yang telah bersusah payah memperjuangkan negara ini. Apa yang dulu tidak baik harus ditinggalkan. Kita harus mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif agar ke depan lebih baik,” ungkap Arif.
Senada dengan itu, Muhammad Muhidin, eks napiter lainnya, mengaku baru kali ini dalam hidupnya mengikuti upacara kemerdekaan.
“Dulu kami negara itu adalah musuh, bahkan tidak pernah hadir dalam upacara seperti ini. Tapi berkat pembinaan Densus 88, kami bisa kembali ke NKRI. Dengan mengikuti upacara, tumbuh kembali cinta tanah air Indonesia,” kata Muhidin.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Ia berharap momentum ini bisa berlanjut dan pemerintah semakin sering melibatkan mantan napiter dalam agenda kenegaraan. “Kalau sering diajak, rasa cinta bangsa dan tanah air akan semakin tumbuh. Kita harus bangga terhadap negara ini,” tegasnya.
Kehadiran eks napiter dalam upacara HUT ke-80 RI di Grahadi menjadi catatan penting. Di tengah suasana peringatan kemerdekaan, perjumpaan mereka dengan masyarakat umum, pejabat, dan keluarga pejuang menjadi pesan kuat bahwa Indonesia selalu punya ruang bagi siapa pun yang ingin kembali setia pada Merah Putih. (dpr)
Editor : Redaksi