Trisnia Isni Susilowati: Anak Penjual Cilok yang Berdiri Tegak di Barisan Paskibraka

harianmerahputih.id
Trisnia Isni Susilowati, anggota Paskibaraka Jawa Timur 2025 asal Lumajang

MERAHPUTIH I SURABAYA - Di sebuah desa Joho, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, deru roda gerobak kayu sering terdengar setiap pagi. Gerobak itu bukan sekadar alat mencari nafkah, melainkan simbol ketekunan dan perjuangan hidup. Triyono dan Susialsi, pasangan suami istri yang sederhana, menggantungkan penghidupan keluarga dari jualan cilok keliling. Dengan gerobak sederhana, mereka menyusuri kampung demi kampung, menawarkan panganan hangat yang dikenal banyak orang sebagai “aci dicolok”.

Di tengah kesederhanaan itu, tumbuh seorang gadis bernama Trisnia Isni Susilowati, lahir pada 13 Juli 2008. Bagi keluarga kecil ini, Nia—begitu ia akrab disapa—bukan hanya anak pertama, tetapi juga harapan dan kebanggaan yang tak ternilai.

Baca juga: Jatim Borong Dua Penghargaan Kesehatan Nasional, Bukti Komitmen Jaga Sanitasi dan Lingkungan Sehat

Kini, nama Nia menggema di Kabupaten Lumajang. Bukan karena ia anak seorang penjual cilok, melainkan karena tekadnya yang berhasil menembus seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Jawa Timur 2025.

“Alhamdulillah, menjadi kebanggaan karena bisa mewakili Kabupaten Lumajang untuk bertugas di tingkat provinsi. Saya tidak pernah menyangka bisa berada di posisi ini,” kata Nia lirih, sembari mengingat perjalanan panjang yang baru saja ia lewati.

Menjadi anggota Paskibraka provinsi bukan perkara mudah. Tahap seleksi berlangsung ketat dan melelahkan. Nia harus mengikuti tes samapta, tes kepribadian, wawasan kebangsaan, hingga tes interview.

“Seleksinya sangat sulit, banyak tahap yang harus dilalui. Dari fisik, mental, sampai wawasan kebangsaan. Awalnya saya tidak percaya diri, karena yang ikut seleksi banyak dan semuanya hebat-hebat,” kenangnya.

Setiap kali seleksi digelar, Nia sudah harus berangkat sejak pukul lima pagi. Motor tua satu-satunya milik keluarga menjadi andalan untuk menempuh perjalanan sekitar satu jam ke pusat kabupaten.

Sang ibu, Susialsi, tak pernah absen menemani. Ia tidak hanya mengantar, tetapi juga menunggu hingga sore hari. Hampir seminggu penuh ia duduk berjam-jam, menanti putrinya selesai seleksi. Akibatnya, Triyono, sang ayah, terpaksa berhenti sementara berjualan cilok karena tidak ada waktu untuk kulakan bahan di pasar.

“Kalau mengingat itu, saya jadi terharu. Mama rela menunggu saya seharian, dan Ayah tidak bisa jualan dulu. Semua demi saya. Itu membuat saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” kata Nia, matanya berkaca-kaca.

Bagi Nia, masa latihan sebagai Paskibraka adalah bagian paling menantang sekaligus paling berkesan. Ia harus berlatih di bawah terik matahari, menjalani disiplin ketat, dan menyesuaikan diri dengan ritme yang baru.

“Latihan paling berat, terutama saat harus menghadapi cuaca panas dan jadwal yang padat. Awalnya terasa sangat sulit. Tapi lama-lama jadi terbiasa, dan kini justru terasa indah karena akan menjadi kenangan seumur hidup,” ujarnya.

Selain latihan fisik, Nia juga belajar arti kebersamaan. Dari rekan-rekan Paskibraka se-Jawa Timur, ia merasakan persaudaraan baru yang membuatnya semakin kuat.

“Teman-teman menjadi keluarga kedua. Kami sama-sama berjuang, sama-sama jatuh, sama-sama bangkit. Itu tidak akan pernah saya lupakan,” tambahnya.

Baca juga: Jatim Mantapkan Dukungan untuk Swasembada Susu dan Gula, Khofifah: Siap di Garis Terdepan

Di balik baju putih Paskibraka yang gagah, Nia menyimpan cita-cita sederhana namun besar: menjadi pramugari. Baginya, pekerjaan itu bukan hanya profesi, melainkan simbol mimpi untuk terbang tinggi keluar dari lingkar keterbatasan.

“Saya ingin jadi pramugari. Bisa terbang, bisa melihat dunia lebih luas. Tapi yang paling penting, saya ingin membuat orang tua saya bangga,” katanya.

Bahkan, di usianya yang baru 16 tahun, Nia sudah punya rencana kecil untuk membahagiakan orang tuanya. “Setelah selesai kegiatan Paskibraka ini, saya ingin membelikan Mama dan Ayah handphone. Saya juga ingin memenuhi kebutuhan keluarga yang selama ini masih kurang. Itu cita-cita sederhana saya sebelum mimpi besar terwujud.”

Bagi Susialsi, perjuangan mengantar dan menunggu putrinya bukanlah beban. Ia menganggap setiap menit yang ia habiskan di tepi jalan menunggu Nia sebagai bentuk doa yang dipanjatkan dalam diam.

“Biar kami yang susah sekarang, asal anak bisa berhasil. Saya dan bapaknya hanya ingin melihat Nia lebih baik dari kami. Hidup kami sederhana, tapi kami ingin anak-anak kami punya masa depan,” ucapnya.

Triyono, sang ayah, juga menyimpan harapan besar. Meski dagangan cilok sering sepi atau terkadang habis tanpa sisa, ia merasa semua lelah terbayar saat melihat putrinya berdiri tegak di lapangan sebagai Paskibraka.

“Waktu lihat Nia pakai seragam, dada ini rasanya penuh. Saya tidak sekolah tinggi, tapi anak saya bisa sampai ke sana. Itu sudah cukup membuat hidup saya bahagia,” katanya.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Saat pembubaran Paskibraka Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menitipkan pesan agar generasi muda berhati-hati melangkah, bijak dalam menggunakan ekosistem digital, dan menjaga pergaulan. Nia menegaskan bahwa pesan itu akan ia pegang teguh.

“Moto saya sederhana: menjadi pribadi yang baik, supaya orang tua saya bangga dan saya bisa menjadi generasi penerus yang membanggakan,” ucapnya mantap.

Kisah Nia adalah tentang keberanian seorang anak untuk bermimpi besar meski dilahirkan dari keluarga sederhana. Tentang bagaimana sebuah gerobak cilok yang sederhana bisa mengantarkan seorang anak ke lapangan kehormatan, tempat bendera Merah Putih berkibar.

Bagi Nia, semua ini baru permulaan. “Saya percaya, kalau kita terus berusaha dan tidak lupa berdoa, semua mimpi bisa dicapai,” tuturnya.

Dan di balik setiap langkahnya, ada doa dari seorang ibu yang menunggu sejak subuh, serta kerja keras seorang ayah yang mendorong gerobak cilok keliling kampung.(dpr)


 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru