MERAHPUTIH I SURABAYA – Di tengah gempuran krisis pangan global yang menghantui banyak negara, muncul secercah harapan dari penelitian seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Namanya Yulia Rahmawati, mahasiswa Program Studi Teknik Industri, yang baru saja menuntaskan skripsinya tentang ketahanan pangan berkelanjutan.
Bukan sekadar penelitian biasa, Yulia mencoba meramu solusi sederhana namun berdampak besar: pupuk organik dan rumah burung hantu. Dua elemen yang kerap luput dari perhatian itu, menurutnya, bisa menjadi jawaban atas persoalan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca juga: Pemkot Surabaya Sisir Jalan Dharmawangsa–Semarang: Trotoar Dibersihkan, Parkir Liar Ditertibkan
“Dengan adanya rumah burung hantu, populasi tikus di sawah bisa ditekan secara alami tanpa pestisida. Hal ini selaras dengan tercapainya ketahanan pangan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan hasil panen,” ujar Yulia saat memaparkan hasil penelitiannya.
Isu ketahanan pangan kini menjadi perhatian serius pemerintah, terutama setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya swasembada dan keberlanjutan sektor pertanian.
Di titik itulah, penelitian Yulia menemukan relevansinya. Melalui analisis mendalam, ia membuktikan bahwa pupuk organik dapat menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, sementara burung hantu berperan sebagai predator alami yang efektif melawan hama tikus. Kombinasi keduanya mampu menurunkan biaya operasional petani sekaligus meningkatkan profit.
“Penggunaan pupuk organik dapat menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, sedangkan keberadaan burung hantu efektif mengurangi serangan hama tikus. Keduanya mampu menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menguntungkan petani,” jelas Yulia.
Penelitian ini tidak hanya berhenti di meja laboratorium. Yulia turun langsung ke dua desa di Kabupaten Blitar: Bendosewu dan Kaweron. Di sana ia mewawancarai petani, mendampingi kelompok tani, hingga mengajak mereka mengisi kuesioner.
Dengan metode SEM-PLS dan sistem dinamis menggunakan software Smart-PLS dan Stella, ia menyusun model ketahanan pangan berkelanjutan berdasarkan teori Triple Bottom Line, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Model itu kemudian disimulasikan untuk melihat skenario terbaik bagi profitabilitas petani dan keberlanjutan pertanian desa.
“Saya merancang sendiri model sistem dinamis ini, lalu langsung ke lapangan agar hasil penelitian benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di desa,” tuturnya.
Baca juga: Untag Surabaya Mantapkan Langkah Global, Gandeng UTHM Malaysia Perkuat Riset dan Akademik
Hasil penelitian Yulia menunjukkan bahwa integrasi pupuk organik dan pemeliharaan burung hantu memberi dampak signifikan. Tidak hanya mengurangi ketergantungan petani pada pestisida dan pupuk kimia, tapi juga memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.
Tak heran, skripsi ini diapresiasi banyak pihak sebagai salah satu karya akademik mahasiswa yang paling menarik tahun ini. Ia berhasil memadukan pertanian, ekologi, dan teknologi dalam satu kerangka riset yang aplikatif.
“Harapan saya, hasil skripsi ini tidak berhenti sebagai penelitian akademik, tapi bisa diterapkan di desa-desa lain. Dengan begitu, petani lebih sejahtera dan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat,” ungkapnya penuh semangat.
Yulia akan resmi menyandang gelar sarjana pada 30 Agustus 2025 mendatang bersama ratusan mahasiswa Untag Surabaya lainnya. Namun, kado terindah sudah ia persembahkan lebih dulu: penelitian yang menawarkan solusi nyata untuk masa depan pangan Indonesia.
Dalam konteks krisis pangan global, langkah kecil Yulia di desa Blitar terasa seperti sebuah gebrakan. Dari rumah burung hantu hingga pupuk organik, riset ini memberi pesan sederhana namun kuat: ketahanan pangan bisa dimulai dari inovasi lokal yang ramah lingkungan. (red)
Baca juga: Satpol PP Sisir Jalan Johar–Sulung, Pemkot Surabaya Tertibkan PKL dan Parkir Liar
Editor : Redaksi