MERAHPUTIH I SUMENEP – Situasi darurat kesehatan kembali menghantui Jawa Timur. Sebanyak 17 anak dilaporkan meninggal akibat wabah campak yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Sumenep. Dari angka itu, 16 di antaranya belum pernah menerima imunisasi, sementara satu lainnya tercatat tidak menjalani imunisasi lengkap.
Kondisi tersebut membuat Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung ke Sumenep pada Sabtu (23/8). Ia memimpin rapat teknis di Kantor Bupati Sumenep, lalu menyambangi RSUD Moh. Anwar untuk menjenguk pasien anak penderita campak.
Baca juga: Gerindra Jatim Galang Rp805 Juta untuk Korban Banjir Sumatera, Tujuh Truk Bantuan Diberangkatkan
Tak berhenti di situ, Khofifah juga menyaksikan langsung proses vaksinasi Measles Rubella (MR) kepada sepuluh anak di Pendopo Kabupaten. Kehadirannya sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Pemprov Jatim serius menangani krisis kesehatan ini.
“Semua elemen harus bergerak bersama. Penanganan KLB ini tidak bisa sektoral. Harus terpadu, terintegrasi, cepat, dan masif,” tegas Khofifah di hadapan jajaran pejabat daerah, tenaga medis, hingga perwakilan lembaga internasional.
Khofifah menekankan, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan lintas lembaga mutlak diperlukan. Dari sisi vertikal, Kementerian Kesehatan RI, UNICEF, hingga WHO sudah turun tangan. Sementara secara horizontal, kerja sama melibatkan Bupati, Wakil Bupati, jajaran Dinas Kesehatan, hingga aparat TNI/Polri.
“Mulai dari Dandim, Polres, sampai Babinsa dan Bhabinkamtibmas, semuanya harus bergerak. Kita butuh kolaborasi nyata di lapangan,” tambahnya.
Langkah cepat juga disiapkan berupa Outbreak Response Immunization (ORI), yakni vaksinasi campak-rubela massal pada 25 Agustus hingga 14 September 2025. Pemprov Jatim telah mengirimkan 9.825 vial vaksin MR ke Dinas Kesehatan Sumenep untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Meski vaksin tersedia, tantangan terbesar justru ada pada tingkat kesadaran masyarakat. Banyak keluarga masih menganggap imunisasi tidak penting, bahkan sebagian menolak karena faktor keyakinan atau kurangnya informasi.
Baca juga: Pasar Murah di Pantai Cengkrong, Strategi Khofifah Redam Gejolak Harga Menjelang Nataru
“Ini harus jadi pembelajaran. Jangan sampai generasi penerus kehilangan masa depan karena tidak mendapatkan imunisasi,” kata Khofifah.
Ia menegaskan pentingnya sosialisasi yang bisa menembus hingga lini terbawah, termasuk lewat peran tokoh agama dan masyarakat.
“Tempat vaksinasi bisa di Puskesmas, Pustu, hingga Posyandu. Yang penting pesannya sampai, masyarakat mau datang, anak-anak terlindungi,” tandasnya.
Kasus KLB campak di Sumenep menjadi peringatan keras bahwa imunisasi tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah kini berpacu melindungi anak-anak Sumenep agar tidak ada korban jiwa tambahan.
Baca juga: Khofifah Gandeng Pramuka Jatim Hijaukan Cengkrong
“Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi soal masa depan generasi bangsa,” tutup Khofifah.(dpr)
Editor : Redaksi