Pemprov Jatim Tanggung Biaya Perawatan Korban Luka

harianmerahputih.id
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

MERAHPUTIH I JAKARTA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen penuh pemerintah provinsi dalam memberikan perlindungan dan penanganan medis bagi seluruh korban luka akibat aksi massa di Surabaya. Seluruh biaya perawatan dipastikan ditanggung oleh Pemprov Jatim tanpa terkecuali.

“Saya pastikan mereka semua di dalam pembiayaan Pemprov Jawa Timur karena dua-duanya juga rumah sakitnya milik Pemprov Jatim. Semua, Insya Allah, dalam keadaan baik,” kata Khofifah usai menghadiri kegiatan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/9).

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Menurut laporan yang ia terima, lebih dari seratus orang sempat menjalani penanganan medis pascademonstrasi yang berujung ricuh pada Sabtu malam (30/8). Dari jumlah tersebut, sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing, sementara empat orang masih mendapatkan perawatan intensif: dua di RSUD dr. Soetomo Surabaya dan dua lainnya di RSUD dr. Saiful Anwar Malang .

Khofifah memastikan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kesehatan korban hingga benar-benar pulih. “Kami tidak hanya menanggung biaya, tetapi juga mengawal pemulihan mereka,” tegasnya.

Selain soal penanganan medis, Khofifah juga menyoroti penanganan terhadap massa yang ditahan oleh aparat. Bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, proses pemulangan massa difasilitasi dengan pendekatan humanis.

“Sebagian besar yang ditahan usianya masih belasan tahun. Mereka akhirnya dikembalikan ke keluarga masing-masing,” jelas Khofifah.

Langkah ini, menurutnya, penting untuk mencegah trauma berkepanjangan sekaligus memberikan edukasi agar anak-anak muda tidak terjebak dalam aksi yang berujung anarkis.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Insiden paling memprihatinkan terjadi ketika sisi barat Gedung Negara Grahadi, ikon sejarah sekaligus cagar budaya di jantung Kota Surabaya, dibakar massa pada Sabtu malam sekitar pukul 21.38 WIB. Api melahap sejumlah ruangan, termasuk Press Room yang biasa digunakan wartawan untuk meliput kegiatan gubernur.

Peristiwa itu berlangsung hanya sekitar satu jam setengah setelah Khofifah menemui massa aksi. Diduga, massa melemparkan bom molotov ke arah bangunan, hingga memicu kebakaran.

“Iya tentu itu bagian dari cagar budaya. Kita semua prihatin bahwa bagian barat Grahadi ternyata dilempari molotov juga,” ujar Khofifah dengan nada kecewa.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Pasca peristiwa tersebut, aparat keamanan gabungan masih siaga di sejumlah titik vital Surabaya. Pengamanan diperketat untuk mengantisipasi kemungkinan kericuhan susulan.

Hingga Minggu (31/8) malam, penjagaan difokuskan di area Gedung Negara Grahadi, Mapolsek Tegalsari, dan beberapa ruas jalan protokol Surabaya.

Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi Kota Pahlawan. Gedung Grahadi yang selama ini menjadi simbol pemerintahan Jawa Timur, kembali harus menanggung luka akibat aksi massa yang lepas kendali. (red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru