MERAHPUTIH I SURABAYA – Dunia mode internasional kembali dikejutkan oleh langkah berani siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Jawa Timur. Karya-karya busana rancangan mereka bukan sekadar dipajang, melainkan benar-benar berhasil menembus pasar global dalam ajang Centrestage ke-10: Asia’s Fashion Spotlight yang berlangsung di Hong Kong Convention and Exhibition Centre, 3–6 September 2025.
Sebanyak 11 SMK dari berbagai kota dan kabupaten di Jatim tampil dengan percaya diri membawa koleksi unggulan. Mereka hadir bersama Kekean Wastra Gallery, industri tekstil yang selama ini mendukung perkembangan busana berbasis kain tradisional. Nama-nama sekolah itu antara lain SMKN 3 Kota Malang, SMKN 1 Buduran Sidoarjo, SMKN 3 Kediri, SMKN 2 Boyolangu Tulungagung, SMKN 1 Donorojo Pacitan, SMKN 1 Turen Malang, SMKN 3 Blitar, SMKN 1 Wonoasri Madiun, SMKN 6 Surabaya, SMKN 2 Lumajang, serta SMKN 8 Surabaya.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, tidak menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, kesempatan emas ini adalah bukti bahwa kreativitas anak didik vokasi di Jawa Timur tidak lagi sebatas konsumsi nasional, tetapi mampu menjangkau panggung internasional.
“Selama ini karya SMK kita dikenal di tingkat nasional. Kini, melalui Centrestage, terbukti bahwa karya pelajar Jawa Timur juga pantas bersaing di level dunia,” ujar Aries, Minggu (7/9).
Keikutsertaan para siswa tidak hanya sebatas memamerkan karya. Mereka juga turut serta dalam seminar bisnis fashion, di mana langsung mendapat atensi dari buyer dan desainer dunia. Responnya sungguh luar biasa: koleksi SMK Jatim laris terjual dengan nilai total mencapai Rp98,65 juta, terdiri dari 62 busana, 20 kain, dan 24 aksesori. Bahkan, pesanan baru mengalir deras, 25 model busana, 10 jenis kain, serta 14 aksesori dari industri fashion Hong Kong.
Bagi Aries, pengalaman ini bukan semata urusan transaksi, melainkan investasi besar bagi mental para pelajar.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
“Ini bukan hanya soal prestasi. Lebih jauh, anak-anak mendapatkan rasa percaya diri, kebanggaan, dan pengalaman langsung tentang bagaimana industri global bergerak,” ungkapnya.
Namun, jalan menuju kancah internasional tentu tidak mulus sepenuhnya. Aries menyoroti beberapa catatan penting, salah satunya keterbatasan jumlah koleksi akibat aturan bagasi, serta ukuran busana yang masih belum sepenuhnya sesuai standar Eropa-Amerika.
“Setelah dievaluasi, anak-anak akan menyesuaikan ukuran koleksi. Ini akan jadi bekal penting agar mereka makin siap di pasar global,” tambahnya.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Lebih jauh, Aries menekankan perlunya langkah strategis untuk menjaga momentum ini. Ia mendorong pembentukan asosiasi SMK Tata Busana, pendirian galeri fashion SMK Jatim, serta program upskilling guru tata busana. Semua itu, menurutnya, merupakan kunci agar pendidikan vokasi tidak sekadar menghasilkan lulusan, tapi juga benar-benar mencetak SDM unggul yang siap bersaing di industri kreatif.
“Konsep teaching factory yang selama ini dijalankan SMK sudah membuahkan hasil nyata. Karya anak-anak tidak hanya memenuhi standar industri, tapi juga punya nilai jual tinggi,” tegasnya.
Momentum di Hong Kong ini jelas menjadi titik balik. Dengan bekal kreativitas, jejaring global, dan pengalaman berharga, siswa SMK Jawa Timur kian percaya diri menancapkan jejak di peta industri fashion dunia. Lebih dari sekadar prestasi, capaian ini menegaskan bahwa pendidikan vokasi Indonesia mampu melahirkan generasi kreatif berdaya saing global. (dpr)
Editor : Redaksi