Polisi Beber Fakta Baru, Bus RSBS Jember Tabrak Tebing Tanpa Jejak Pengereman

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I SURABAYA – Misteri penyebab kecelakaan maut bus pariwisata yang mengangkut rombongan karyawan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember di jalur wisata Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, mulai terkuak. Kepolisian mengungkapkan fakta mencengangkan: tak ada jejak pengereman sedikit pun di lokasi kejadian.

Baca juga: Gubernur Khofifah Besuk Korban Kecelakaan di Jember, Serahkan Santunan

Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Timur, Kombes Iwan Saktiadi, menegaskan hal itu berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan tim gabungan.

“Dari hasil olah TKP, tidak ditemukan adanya jejak pengereman. Bus meluncur begitu saja hingga akhirnya menabrak dinding tebing,” ujar Iwan dalam keterangan pers di Mapolda Jatim, Selasa (16/9).

Bus nahas bernomor polisi P-7221-UG itu diperkirakan melaju sejauh 60 meter sejak hilang kendali hingga posisi akhir menabrak tebing sisi kanan jalan. Benturan keras meninggalkan jejak panjang pada dinding batu, dari bagian depan kemudi hingga bodi belakang.

“Kaca pecah, bodi hancur di sisi kanan. Itu menunjukkan benturan berlangsung terus-menerus dalam kecepatan tinggi,” jelas Iwan.

Fakta lain yang diungkap polisi adalah posisi transmisi kendaraan. Saat dicek, tuas persneling bus masih berada di gigi tiga. “Artinya, sejak awal kendaraan tidak berada pada posisi gigi rendah yang biasanya dipakai saat melewati turunan curam,” tambahnya.

Analisis Traffic Accident Analysis yang dilakukan kepolisian memperkirakan bus melaju pada kecepatan 64–80 kilometer per jam saat kejadian. Kecepatan itu tergolong tinggi untuk jalur pegunungan dengan kondisi turunan dan tikungan tajam.

Baca juga: Gubernur Khofifah Takziah, Serahkan Santunan dan Dorong Evaluasi Jalur Rawan di Probolinggo

“Perhitungan teknis kami menunjukkan bus meluncur dalam kecepatan 64 hingga 80 km/jam sebelum menabrak tebing,” kata Iwan.

Tragedi yang terjadi Minggu (14/9) itu menelan korban besar. Dari total 52 penumpang, delapan orang meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara 44 lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Probolinggo.

“Mayoritas korban mengalami patah tulang, luka di kepala, hingga trauma akibat benturan keras,” terang salah satu tenaga medis di RSUD dr. Moh. Saleh Probolinggo.

Polisi hingga kini masih mendalami penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya kelalaian teknis maupun faktor manusia. Ketiadaan jejak pengereman memunculkan dugaan sopir tidak sempat mengendalikan kendaraan atau terjadi masalah pada sistem rem.

Baca juga: Jumlah Korban Bus Maut Rombongan Nakes Jember Bertambah Jadi Delapan Jiwa

“Masih kami dalami. Bisa faktor rem, bisa juga faktor human error. Semua masih dalam proses investigasi,” tegas Kombes Iwan.

Kecelakaan ini menjadi duka mendalam bagi keluarga besar RSBS Jember. Rombongan tersebut sebenarnya tengah melakukan perjalanan wisata sebagai kegiatan pelepas penat. Namun perjalanan yang semula diwarnai canda tawa, berakhir pilu di jalur Bromo.

“Kami sangat berduka. Semoga keluarga korban diberi kekuatan dan korban luka segera pulih,” ujar perwakilan manajemen RSBS.

Tragedi ini kembali menyoroti keselamatan transportasi wisata di jalur-jalur pegunungan. Investigasi polisi masih berlangsung, dan publik menunggu kepastian: apakah ini murni akibat kelalaian pengemudi, masalah teknis kendaraan, atau kombinasi keduanya.(red)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru