MERAHPUTIH i JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan optimisme bahwa Indonesia telah dan akan terus berdiri tegak di atas fondasi kokoh sejarahnya. Dalam lintasan delapan dekade perjalanan, bangsa ini telah melewati badai, perang ideologi, dan gelombang tantangan besar. Namun, Indonesia tetap utuh, tetap kuat, tetap berdaulat di atas kakinya sendiri.
“Alhamdulillah, kita sekarang utuh. Kita sekarang kuat. Kita masih berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Presiden Prabowo dengan nada penuh keyakinan saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) VI Partai Keadilan Sejahtera (PKS), di Golden Ballroom, The Sultan Hotel, Jakarta, Senin (29/9).
Baca juga: Peresmian Lima Infrastruktur Baru: Prabowo Tegaskan Konektivitas Jadi Tulang Punggung Pemerataan
Nada suaranya tenang, namun tegas. Presiden tak menutup mata bahwa perjalanan bangsa belum sempurna. Masih banyak ruang yang perlu dibenahi, terutama dalam perang melawan praktik korupsi yang membelenggu.
“Kita mengerti banyak kekurangan. Kita tidak bisa pungkiri, korupsi masih sangat berlaku di bangsa kita,” lanjutnya, sembari mengajak seluruh elemen bangsa untuk jujur menatap cermin.
Bagi Prabowo, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan terletak pada deretan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan pada seberapa jauh kesejahteraan menjangkau seluruh rakyatnya. Ia mengingatkan, kemakmuran bukanlah privilese segelintir, melainkan hak seluruh warga Indonesia.
“Negara yang berhasil adalah negara di mana semua rakyat bisa hidup dalam kecukupan. Kemakmuran dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Itu tujuan kita,” tegasnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Resmikan RS Kardiologi Emirates–Indonesia, Simbol Persahabatan Jakarta–Abu Dhabi
Presiden juga kembali mengingatkan amanat para pendiri bangsa yang tertulis jelas dalam konstitusi: bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam Indonesia bukan untuk diperjualbelikan, tetapi dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
“Tapi saya katakan, perintah undang-undang dasar, perintah pendiri bangsa kita jelas: bumi dan air, serta kekayaan di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemampuan rakyat,” tandasnya.
Pernyataan itu bukan sekadar pengulangan pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bagi Prabowo, itu adalah kompas moral, arah perjuangan, dan sumber energi untuk melanjutkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Di hadapan para kader PKS, Prabowo menutup sambutannya dengan harapan agar setiap pemimpin, tanpa terkecuali, kembali ke akar perjuangan bangsa: membela rakyat, menegakkan keadilan, dan memastikan kemakmuran tidak berhenti di mimpi.
Indonesia telah menempuh 80 tahun perjalanan. Luka dan lelah pernah datang silih berganti, tapi bangsa ini tetap berdiri, karena keyakinan bahwa masa depan harus terus diperjuangkan.
Editor : Redaksi