Gus Ipul Dorong Audit Struktur Bangunan Pondok Pesantren: Belajar dari Musibah, Bangun Pesantren yang Lebih Aman

harianmerahputih.id
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf saat secara simbolis menyerahkan bantuan Kementerian Sosial santunan ahli waris korban bencana non alam 2025, Sabtu (11/10).

MERAHPUTIH I SURABAYA – Menteri Sosial yang juga Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf, menyerukan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fisik pondok pesantren di seluruh Indonesia. Hal ini disampaikan Gus Ipul,  sapaan akrabnya usai menghadiri Khotmil Quran dan Tahlil Akbar Syuhada Santri Al-Khoziny yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Aula KH. M. Hasyim Asy’ari, Kantor PWNU Jatim, Surabaya, Sabtu (11/10).

Menurut Gus Ipul, pondok pesantren selama ini tumbuh dari kemandirian dan swadaya masyarakat, terutama para pengasuhnya. Banyak pesantren yang berdiri tanpa bantuan besar dari pemerintah dan berkembang seiring bertambahnya jumlah santri.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Pondok pesantren itu sebagian besar dibangun dengan swadaya para pengasuhnya. Mereka membangun secara mandiri, sedikit demi sedikit, mengikuti perkembangan jumlah santri dan kebutuhan fasilitasnya,” ujar Gus Ipul.

Ia menambahkan, banyak pondok pesantren berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan ada yang sudah berusia ratusan tahun.

“Alhamdulillah, perkembangannya luar biasa. Santrinya semakin banyak, pengasuhnya terus berupaya membangun sesuai kemampuan,” tuturnya.

Namun, di balik semangat kemandirian itu, Gus Ipul menekankan perlunya perhatian serius terhadap aspek keselamatan bangunan. Menurutnya, musibah yang menimpa beberapa pesantren akhir-akhir ini harus dijadikan pelajaran berharga untuk memperbaiki sistem pembangunan di lingkungan pesantren.

“Yang bisa kita lakukan ke depan adalah belajar dari musibah ini. Sudah sepatutnya pesantren-pesantren melalui pengurus Nahdlatul Ulama mengambil inisiatif untuk melakukan audit terhadap struktur bangunan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, audit tersebut dapat dilakukan dengan menggandeng pemerintah daerah maupun pihak swasta yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

“Kita bisa bekerja sama dengan pemerintah kabupaten, kota, atau provinsi. Datangkan konsultan, datangkan ahli struktur untuk menilai keamanan bangunan yang ada di pesantren,” jelasnya.

Gus Ipul menyadari bahwa banyak bangunan pesantren lama dibangun tanpa mengikuti standar teknis modern. Hal ini disebabkan oleh kondisi zaman saat itu yang belum mengenal izin mendirikan bangunan (IMB) atau keterlibatan konsultan profesional.

“Dulu mungkin belum ada aturan seperti sekarang, di mana setiap pembangunan wajib melibatkan konsultan. Karena itu, kita perlu menyosialisasikan hal ini, agar para pengasuh pesantren juga paham pentingnya standar keselamatan bangunan,” ungkapnya.

Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur itu berharap langkah evaluasi ini tidak hanya berhenti pada audit, tetapi juga ditindaklanjuti dengan penerbitan sertifikat kelayakan bangunan.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

“Syukur-syukur nanti kalau hasilnya bisa dilengkapi dengan sertifikat kelayakan bangunan, tentu bersama pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” katanya.

Menurutnya, jika langkah tersebut dijalankan dengan baik, ke depan tidak hanya menjamin keselamatan santri, tetapi juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

“Kalau pengurus NU lewat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) turun tangan, dan para pengasuh pesantren bersama-sama melakukan evaluasi bangunan, saya yakin hasilnya akan sangat baik. Ini bukan sekadar soal fisik bangunan, tapi juga bentuk tanggung jawab moral kita terhadap keselamatan para santri,” tutup Gus Ipul.

Kegiatan Khotmil Quran dan Tahlil Akbar yang dihadirinya itu sendiri digelar untuk mendoakan para syuhada santri, sekaligus menjadi momentum refleksi bagi kalangan pesantren agar terus memperkuat peran dan ketahanannya, baik dalam pendidikan maupun dalam keselamatan lingkungan.(red) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru