Jawa Timur Gandeng Rusia, Siapkan Probolinggo Jadi Gerbang Laut Internasional

harianmerahputih.id
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono

MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) menyalakan mesin ambisi besar: menjadikan Pelabuhan Probolinggo sebagai pelabuhan internasional baru di Indonesia Timur. Di bawah komando Gubernur Khofifah Indar Parawansa, langkah ini tak hanya soal infrastruktur, tapi tentang bagaimana Jawa Timur meneguhkan diri sebagai poros maritim utama negeri ini.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono, menyebut bahwa peluang kerja sama investasi dengan Rusia kini sedang dijajaki. Kesepakatan awal dibicarakan langsung antara Gubernur Khofifah dan Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, dalam pertemuan di Gedung Negara Grahadi, Selasa (21/10/2025).

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

“Bu Gubernur menawarkan kerja sama antara Pemprov Jatim dan Rusia untuk pengembangan Pelabuhan Probolinggo. Tujuannya untuk mengurangi beban logistik di Tanjung Priok dan Tanjung Perak,” ujar Nyono kepada wartawan.

Langkah itu bukan tanpa alasan. Tanjung Perak dan Tanjung Priok selama ini menanggung beban logistik nasional terbesar di wilayah barat dan tengah Indonesia. Padahal, kebutuhan pelabuhan laut dalam di kawasan timur kian mendesak. Probolinggo, dengan posisi strategisnya di jalur tol Trans Jawa dan akses langsung ke kawasan industri Pasuruan–Lumajang–Situbondo, dianggap paling siap mengisi kekosongan itu.

Saat ini, Pelabuhan Probolinggo memiliki kedalaman 12 meter dan mampu menampung kapal berbobot hingga 50 ribu ton. Namun, Pemprov Jatim sudah menyiapkan peta jalan pengembangan jangka menengah: kedalaman pelabuhan akan ditingkatkan menjadi 18 meter (draft 18 meter) sehingga bisa disandari kapal kelas pospanamax 7–8 dengan panjang 300–400 meter.

“Kalau sudah 18 meter, kapal besar 100 ribu ton bisa bersandar. Ini bukan lagi pelabuhan regional, tapi internasional,” tegas Nyono.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemprov Jatim memerlukan suntikan investasi antara Rp6 hingga Rp7 triliun. Pada tahap pertama, dana sekitar Rp1,5–2 triliun akan difokuskan untuk memperluas dermaga dan membangun terminal bongkar muat kontainer ekspor-impor.

“Kalau mengandalkan APBN saja jelas tidak cukup. Karena itu, Ibu Gubernur membuka peluang investasi asing, termasuk dari Rusia,” tambahnya.

Secara fisik, sebagian fasilitas utama sudah berdiri. Dermaga berkapasitas 50 ribu ton telah beroperasi dan gudang logistik seluas 6.000 meter persegi telah tersedia. Tantangan berikutnya adalah peningkatan kapasitas dan modernisasi sistem logistik agar mampu melayani arus kapal internasional secara efisien.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

“Secara penunjang, dermaga dan gudang sudah ada. Tapi untuk menjadi pelabuhan internasional, perlu penguatan lanjutan. Kalau di Perak maksimal 50 ribu ton, nanti di Probolinggo bisa dua kali lipatnya,” ujar Nyono.

Pengoperasian pelabuhan berskala besar di Probolinggo diyakini akan membawa efek domino bagi perekonomian kawasan timur Jawa. Selain mempercepat distribusi barang, biaya logistik nasional juga bisa ditekan secara signifikan.

“Kalau kapal besar bisa langsung bersandar di Probolinggo, harga barang otomatis turun. Logistiknya jadi low cost. Barang bisa langsung masuk ke gudang yang terhubung dengan jalan tol,” jelas Nyono.

Rencana ini menjadi bagian dari strategi besar Gubernur Khofifah untuk memperkuat 21 poros maritim nasional yang berada di Jawa Timur dari total 39 poros nasional di Indonesia. Langkah menjadikan Probolinggo sebagai pelabuhan internasional diharapkan mampu menciptakan keseimbangan logistik nasional dan membuka peluang ekspor baru dari industri manufaktur serta agrikultur Jatim.

Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus

Dengan membuka pintu bagi investasi Rusia dan mitra internasional lain, Jawa Timur tampak serius mewujudkan visinya sebagai gerbang ekonomi maritim Indonesia bagian timur. Jika rencana ini terealisasi, Probolinggo bukan lagi sekadar pelabuhan penunjang, ia akan menjadi simpul baru perdagangan dunia di pesisir utara Pulau Jawa.(dpr) 

 

 

 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru