Emil Dardak Dorong Solusi Strategis Sektor Akuakultur di Forum Internasional ICAI 2025 Surabaya

harianmerahputih.id
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak bersama Rokhmin Dahuri, selaku Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan Anggota Komisi IV DPR RI saat memberikan keterangan pers

MERAHPUTIH I SURABAYA — Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam memperkuat sektor akuakultur sebagai salah satu pilar ekonomi pesisir Jawa Timur. Hal ini ia sampaikan saat menghadiri The 11th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2025 yang digelar di Wyndham Hotel Surabaya, Rabu (29/10).

Dalam forum bergengsi yang mempertemukan berbagai pakar, pelaku industri, hingga perwakilan pemerintah tersebut, Emil Dardak berkesempatan bertemu langsung dengan Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf. Keduanya membahas sejumlah isu strategis yang tengah dihadapi dunia perikanan, khususnya terkait ekspor udang ke Amerika Serikat dan rencana pembangunan Integrated Shrimp Aquaculture Cluster atau klaster budidaya udang terintegrasi yang dikenal dengan proyek Giant Sea Wall.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Menurut Emil, isu ekspor udang ke Amerika Serikat menjadi perhatian serius karena sektor tersebut merupakan salah satu tulang punggung ekspor perikanan Jawa Timur. “Kita ingin memastikan bahwa para pembudidaya udang di Jawa Timur tetap bisa bersaing di pasar global dengan standar kualitas dan keberlanjutan yang diakui internasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Bupati Trenggalek itu menyoroti pentingnya keberadaan proyek Giant Sea Wall di kawasan pesisir utara Jawa Timur, khususnya di area Tuban, Lamongan, dan Gresik. Proyek ini, kata Emil, tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan wilayah pesisir dari abrasi dan banjir rob, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun kawasan budidaya udang terpadu yang efisien dan ramah lingkungan.

“Pembangunan Giant Sea Wall akan menjadi katalis bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi pesisir yang lebih kuat. Di sisi lain, kita juga memastikan agar keberlanjutan lingkungan tetap menjadi prioritas utama,” jelas Emil.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Emil juga menggarisbawahi bahwa Jawa Timur memiliki kontribusi besar dalam produksi hasil akuakultur nasional, termasuk komoditas udang, bandeng, dan rumput laut. Karena itu, ia menilai sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha harus terus diperkuat agar sektor ini mampu menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga dinamika pasar ekspor.

“Jawa Timur adalah provinsi dengan garis pantai panjang dan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari hasil laut. Maka, penguatan sektor akuakultur bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal keberlanjutan sosial dan lingkungan,” tambahnya.

Pada sesi Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan Ashaf, dalam kesempatan yang sama menilai bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi model pengembangan akuakultur nasional, terutama dengan pendekatan teknologi dan pengelolaan terintegrasi.

Baca juga: Wagub Emil Tegaskan Peran Strategis PMI dalam Fondasi Kesehatan Jatim

The 11th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2025 sendiri menjadi wadah bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi akuakultur untuk berbagi pengetahuan, inovasi, dan kebijakan terbaru dalam pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan. Tahun ini, konferensi tersebut mengangkat tema besar tentang transformasi digital dan ketahanan pangan di sektor perikanan.

Dengan hadirnya Emil Dardak dan keterlibatan aktif Jawa Timur dalam forum internasional ini, diharapkan sektor akuakultur di provinsi tersebut dapat terus berkembang menuju arah yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing global.(dpr)

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru