Jatim Jajaki Transformasi Sampah Usai Gubernur Khofifah Kunjungi TSIP Singapura

harianmerahputih.id

MERAHPUTIH I SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung Tuas South Incineration Plant (TSIP) di Singapura, Jumat (14/11), sebagai bagian dari Program RISING Fellowship. Fasilitas waste-to-energy (WtE) terbesar dan tercanggih Negeri Singa itu menjadi rujukan utama dalam transformasi pengelolaan sampah modern.

Khofifah menyebut TSIP menunjukkan bagaimana teknologi tinggi mampu mengolah limbah padat menjadi listrik sekaligus menekan volume sampah hingga 90 persen melalui pembakaran bersuhu 850–1.000°C. Setiap hari, kompleks ini menampung sekitar 600 truk sampah sebelum diproses menjadi energi dan residunya dikirim ke Semakau Landfill.

Baca juga: Lion City Sailors Kalahkan Persib 3-2, Perebutan Tiket 16 Besar Grup G Memanas

“Komitmen Singapura menuju zero-waste future sangat konsisten. Teknologi ini layak kita pelajari,” kata Khofifah.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah sistem tekanan udara negatif di area bunker, sehingga aroma menyengat tidak bocor ke lingkungan. Udara berbau itu dialirkan kembali ke tungku insinerasi untuk dimusnahkan.

Menurut Khofifah, metode tersebut relevan dengan tantangan pengelolaan sampah di banyak daerah. “Aroma sampah menjadi keluhan umum masyarakat. Teknologi seperti ini harus bisa kita adaptasi,” ujarnya.

Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya

Jawa Timur saat ini menghasilkan 6,5 juta ton sampah per tahun, dengan hampir 3 juta ton di antaranya belum tertangani. Meski memiliki 5.170 bank sampah dan lebih dari 1.100 desa/kelurahan Berseri, tantangan sampah perkotaan, industri, serta pesisir tetap besar.

Karena itu, Pemprov Jatim mendorong strategi agresif meliputi pengurangan sampah dari sumber, edukasi pemilahan, penguatan daur ulang, ekonomi sirkular, hingga teknologi ramah lingkungan. Salah satunya PLTSa Benowo di Surabaya yang memanfaatkan landfill gas dan gasifikasi untuk menghasilkan listrik.

Dalam pertemuan sebelumnya dengan National Environment Agency (NEA), Khofifah mendapatkan penegasan bahwa kunci keberhasilan WtE adalah partisipasi publik dalam memilah sampah. “NEA menekankan pentingnya edukasi pemilahan. Itu langkah pertama,” katanya.

Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik

Khofifah menyampaikan apresiasi atas kesempatan mempelajari model pengelolaan sampah modern tersebut dan berharap kerja sama dengan Singapura terus diperluas, terutama dalam pengembangan teknologi hijau dan ekonomi berkelanjutan.

“Ini langkah menuju masa depan yang lebih bersih, sehat, dan tangguh bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(red) 

Editor : Redaksi

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru