MERAHPUTIH I JAKARTA - Sumatera Utara kembali menangis. Hujan ekstrem yang mengguyur sejak awal pekan memicu banjir bandang dan tanah longsor berskala besar, dan hingga Sabtu (29/11), jumlah korban meninggal dunia melonjak menjadi 166 jiwa. Sementara itu, 143 orang lainnya masih hilang, terjebak di antara puing, lumpur, dan wilayah yang terkubur material longsor.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, dalam laporan resmi yang diterima di Jakarta pada Minggu pagi, menegaskan bahwa penambahan jumlah korban merupakan hasil dari operasi pencarian yang semakin agresif setelah status tanggap darurat diberlakukan.
Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami
“Dalam satu hari ini bertambah 60 korban jiwa berkat operasi pencarian tim gabungan,” kata Suharyanto. “Tim SAR terus bekerja tanpa henti.”
Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga tercatat sebagai wilayah dengan dampak terparah. Desa-desa di kaki bukit luluh lantak diterjang air bah bercampur material kayu dan batu. Jalan-jalan penghubung terputus, jaringan listrik dan komunikasi sempat tumbang, membuat sejumlah kawasan terisolasi total selama lebih dari 48 jam.
Tak hanya korban jiwa, gelombang pengungsian juga tak terhindarkan. Ribuan kepala keluarga saat ini menempati pos-pos darurat yang tersebar di Tapanuli Selatan, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, hingga Humbang Hasundutan. Jumlahnya diperkirakan terus bertambah seiring pendataan lanjutan.
“Proses verifikasi data masih berjalan beriringan dengan operasi SAR yang kini berlangsung 24 jam penuh,” ujar Suharyanto.
Dalam situasi lapangan yang didominasi medan berat, distribusi logistik menjadi tantangan tersendiri. Beberapa jalur darat tak dapat dilalui karena tertutup material longsor atau ambles tergerus arus banjir.
Baca juga: Pemerintah Kebut Penanganan Tanggap Darurat, Presiden Prabowo Instruksikan Bantuan Diprioritaskan
Untuk itu, BNPB menempatkan lima helikopter perbantuan di Bandara Silangit. Armada udara ini menjadi tulang punggung pengiriman bantuan ke wilayah yang masih terkepung bencana, khususnya Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal.
Jenis armada yang dikerahkan pun beragam:
– Bell 412EPI milik TNI AD
– MI-17V5
– Helikopter swasta
– Ditambah dukungan pesawat Cessna Caravan untuk rute udara pendek yang dapat mendarat di landasan sederhana
Fokusnya jelas: membuka isolasi, menyalurkan makanan siap saji, selimut, tenda, air bersih, hingga layanan kesehatan darurat bagi warga yang nyaris kehabisan suplai.
Baca juga: Semeru Naik ke Level Awas, Erupsi Meningkat Tajam dan Radius Bahaya Diperluas
Hingga berita ini diturunkan, cuaca di beberapa titik masih tidak stabil. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi diperkirakan kembali mengguyur Sumatera Utara dalam dua hari ke depan. Kondisi ini membuat tim SAR bekerja dalam tekanan tinggi, berpacu dengan risiko susulan.
Di tengah kepungan lumpur, puing, serta informasi warga yang masih simpang-siur, satu hal menjadi nyata: Sumatera Utara sedang melalui salah satu bencana terbesar dalam satu dekade terakhir.
BNPB menegaskan operasi pencarian, evakuasi, dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi akan terus dilanjutkan tanpa jeda sampai seluruh warga terdampak tertangani. (red)
Editor : Redaksi