MERAHPUTIH I SURABAYA — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa menjadi influencer tidak bisa hanya mengandalkan popularitas dan jumlah pengikut. Di tengah derasnya arus media sosial, influencer justru dituntut memiliki keteguhan karakter, keluasan ilmu, serta pemahaman teori komunikasi agar pengaruh yang dibangun tidak menyesatkan publik.
Penegasan itu disampaikan Lia saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taruna Surabaya, Minggu (11/1/2026). Kehadiran senator perempuan tersebut disambut antusias ratusan mahasiswa yang memenuhi ruang kegiatan.
Baca juga: Reses di 16 Daerah Jatim, Lia Istifhama Tegaskan Empat Agenda Mendesak Nasional
Di hadapan peserta LDKM, Lia mengingatkan bahwa ruang publik hari ini telah bergeser ke media sosial. Siapa pun bisa menjadi figur berpengaruh, namun tidak semua layak disebut influencer yang bertanggung jawab.
“Influencer bukan soal viral atau terkenal. Pengaruh itu amanah. Jika tidak dibarengi karakter dan ilmu, maka dampaknya bisa merusak,” tegas Lia.
Ia menekankan pentingnya ketenangan batin dan penguasaan diri saat berbicara di depan publik. Menurutnya, kegugupan adalah musuh utama komunikasi yang efektif, terlebih bagi generasi muda yang sedang membangun kepercayaan diri.
“Kalau ingin berbicara di depan banyak orang, tenangkan diri. Dalam ajaran Islam, kita diajarkan membaca doa rabbi syrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qouli. Itu bukan sekadar doa, tapi cara membangun kesiapan mental agar pesan tersampaikan dengan baik,” ujarnya.
Lia menegaskan, pesan yang lahir dari hati akan lebih mudah diterima. Kejujuran dan ketulusan, menurutnya, adalah modal utama dalam membangun kepercayaan publik, terutama di kalangan generasi muda yang semakin kritis terhadap konten media sosial.
“Anak muda sekarang cerdas. Mereka bisa membedakan mana yang tulus, mana yang hanya pencitraan. Influencer sejati itu berbicara dari hati, bukan dari skenario,” katanya.
Baca juga: Pemprov Jatim Gaspol Kendalikan Inflasi, Pasar Murah Digelar di Lamongan
Tidak berhenti pada aspek moral dan spiritual, Lia juga mengingatkan pentingnya landasan akademik. Ia secara tegas mendorong mahasiswa untuk memahami teori komunikasi agar tidak sembarangan memproduksi dan menyebarkan konten.
Beberapa teori komunikasi, seperti hypodermic needle theory dan spiral of silence, menurut Lia, harus dipahami agar mahasiswa sadar bahwa pesan di media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik.
“Konten itu tidak netral. Apa yang kita unggah bisa mempengaruhi cara berpikir orang lain. Kalau kita tidak paham teorinya, kita bisa menjadi bagian dari masalah, bukan solusi,” tegasnya.
Lia juga menyoroti kuatnya pengaruh media sosial Indonesia di tingkat global. Arus informasi dari dalam negeri, kata dia, kerap bergema hingga ke luar negeri dan membentuk persepsi tentang Indonesia.
Baca juga: Lia Istifhama: Satyalancana Wira Karya Bukti Jatim Jadi Pilar Swasembada Pangan Nasional
“Media sosial Indonesia itu kuat. Apa yang viral di sini bisa dibaca dunia. Karena itu, mahasiswa harus bijak dan berani menolak arus yang tidak mendidik,” ujarnya.
Melalui kegiatan LDKM ini, Lia berharap mahasiswa STAI Taruna Surabaya mampu tumbuh menjadi pemimpin muda sekaligus influencer yang beretika, berilmu, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Ia menilai kampus memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya vokal, tetapi juga bertanggung jawab atas setiap narasi yang dibangun.
“Negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tapi sering kekurangan orang berkarakter. Kampus harus hadir untuk menjawab tantangan itu,” pungkas Lia. (dpr)
Editor : Redaksi