MERAHPUTIH I SURABAYA – Ketegangan geopolitik global yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim). Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu krisis energi dan ekonomi global yang dapat memengaruhi stabilitas investasi, termasuk di Jawa Timur.
Meski demikian, Pemprov Jatim tetap optimistis iklim investasi di provinsi ini dapat terjaga dengan baik. Pemerintah daerah memastikan berbagai langkah strategis dilakukan untuk mempertahankan kepercayaan para investor agar tetap menanamkan modalnya di wilayah tersebut.
Baca juga: Khofifah Pimpin Apel ASN Pemprov Jatim, Tekankan Kesiapsiagaan Mudik dan Antisipasi Dampak Global
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur, Dyah Wahyu Ermawati, mengakui bahwa memanasnya situasi geopolitik dunia bisa memengaruhi psikologis para pelaku usaha, khususnya investor berskala besar. Namun hingga saat ini, ia menilai dampaknya terhadap realisasi investasi di Jawa Timur masih belum signifikan.
“Memang akan ada sedikit dampak karena kondisi global, tapi kami tetap optimistis meskipun mungkin tidak selancar sebelumnya. Selama ini investor di Jawa Timur rata-rata merasa nyaman dan betah berinvestasi di sini,” ujar Ermawati saat ditemui wartawan, Selasa (17/3).
Menurutnya, kunci utama menjaga keberlanjutan investasi di tengah situasi global yang tidak menentu adalah memastikan pelayanan kepada investor tetap optimal. Karena itu, DPMPTSP Jatim berkomitmen memberikan layanan yang cepat, responsif, dan solutif bagi para investor maupun calon investor.
Ia menegaskan bahwa kepercayaan investor merupakan faktor paling penting dalam mempertahankan arus investasi di daerah. Oleh sebab itu, pemerintah akan berupaya menjaga kepercayaan tersebut melalui pelayanan yang maksimal serta penyelesaian berbagai kendala yang mungkin dihadapi investor di lapangan.
“Prinsipnya kami memberikan pelayanan terbaik. Ketika investor merasa puas dengan layanan yang diberikan pemerintah, maka kepercayaan mereka akan tetap terjaga,” katanya.
Ermawati menambahkan, pengalaman positif investor yang sudah lebih dulu menanamkan modal di Jawa Timur sering kali menjadi promosi efektif untuk menarik investor lain. Menurutnya, perusahaan besar yang masuk biasanya diikuti oleh perusahaan-perusahaan pendukung dalam rantai industrinya.
“Kalau perusahaan besar sudah datang, biasanya yang kecil-kecil akan ikut. Mereka bahkan bisa mengajak rekan atau mitra bisnisnya untuk berinvestasi juga di sini,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa perusahaan besar umumnya mempertimbangkan ketersediaan klaster industri yang jelas sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Kejelasan lokasi industri, sumber bahan baku hingga pasar menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi.
“Bagi perusahaan besar, klaster industri itu harus jelas. Hulunya di mana, industrinya di mana, dan pasarnya ke mana. Itu yang saat ini terus kita bahas dan siapkan,” ungkapnya.
Baca juga: Kadindik Jatim: Idul Fitri Momentum Perkuat Silaturahmi dan Semangat Baru Dunia Pendidikan
Untuk tahun 2026, Pemprov Jawa Timur menargetkan nilai investasi sebesar Rp147,7 triliun. Target tersebut diharapkan setidaknya bisa menyamai bahkan melampaui realisasi investasi pada tahun 2025.
“Target investasi tahun 2026 sebesar Rp147,7 triliun. Kami berharap minimal bisa menyamai atau bahkan melampaui capaian sebelumnya,” ujar Ermawati.
Ia menjelaskan, sebagian besar investasi yang akan terealisasi pada 2026 merupakan kelanjutan dari komitmen investasi yang sudah masuk sejak tahun sebelumnya. Sejumlah investor yang telah menanamkan modal pada 2025 diperkirakan akan menambah ekspansi usahanya di tahun berikutnya.
“Kalau melihat tren yang ada, beberapa investor yang sudah masuk sejak 2025 kemungkinan akan menambah investasinya,” katanya.
Meski demikian, Ermawati tidak menampik bahwa investor besar cenderung bersikap lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian global. Banyak di antara mereka yang memilih menunggu perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan investasi baru.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov Jatim kini juga mendorong penguatan investasi dari sektor usaha kecil dan menengah yang dinilai lebih fleksibel dalam menghadapi dinamika ekonomi.
Baca juga: Panca Wira Usaha Fokus Optimalisasi Aset dan Efisiensi pada 2026
“Kalau investor kecil dan menengah, yang penting kepercayaan mereka dijaga. Kita layani dengan baik dan kalau ada masalah kita bantu selesaikan,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga berkomitmen menjaga stabilitas dan keamanan iklim usaha di Jawa Timur. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan investor yang sudah ada sekaligus menarik minat investor baru.
“Iklim investasi yang kondusif akan menjadi promosi yang sangat kuat. Ketika investor merasa nyaman, mereka akan bertahan dan bahkan mengundang investor lain untuk datang,” tambahnya.
Sementara itu, sejumlah sektor industri masih menjadi primadona investasi di Jawa Timur. Beberapa di antaranya adalah industri makanan, industri kimia, industri aluminium, smelter, serta berbagai industri logam lainnya yang terus menunjukkan potensi pertumbuhan.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemprov Jatim berharap arus investasi tetap terjaga meskipun di tengah ketidakpastian ekonomi global, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia.(pps)
Editor : Redaksi