BKKBN : 414 Ribu Pasangan Usia Subur Putus KB

harianmerahputih.id
Kemungkinan akan terjadi kehamilan yang tak diinginkan akibat tingginya kasus drop out KB.

MERAHPUTIH|Surabaya –  Pandemi juga berimbas pada peningkatan jumlah kelahiran di beberapa bulan mendatang. Sebab, jumlah wanita usia subur yang putus menggunakan alat kontrasepsi (KB) di Jawa Timur terus meningkat. Tingginya angka putus KB atau drop out KB ini sangat berpotensi terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Kantor Perwakilan BKKBN Jatim, Sukaryo Teguh Santoso, Kamis (28/5).

“Di masa pandemi ini, memang terjadi penurunan jumlah akseptor KB,” kata Sukaryo.

Sukaryo menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhinya, antara lain secara psikologis masyarakat takut untuk mendapatkan layanan ber-KB di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Ada ketakutan jika mereka datang untuk ber-KB ternyata harus dilakukan tes dan ditemukan indikasi gejala Covid-19, mereka tidak diperbolehkan pulang.

Selain keengganan dari masyarakat untuk mendatangi faskes, ungkap Sukaryo, pasokan alat kontrasepsi yang ada pun sempat terganggu. Hal ini disebabkan karena alat kontrasepsi yang diimpor dari India sebanyak 400 juta alkon tertahan di salah satu Bandara di India karena penerapan lockdown.

Sukaryo menyebutkan jumlah akseptor KB sebanyak 7,8 juta, namun angka ini menurun dalam tiga bulan terakhir. Pada Februari 2020, terjadi penurunan sehingga jumlah akseptor KB hanya 75,15 persen, di bulan Maret menurun lagi dan hanya 74.84 persen, angka ini menurun lagi di April 2020 yaitu tinggal 74,77 persen atau tinggal 5,68 juta saja.

“Angka ini sesuai dengan data drop out KB,” sebut Sukaryo.

Data drop out KB di Jawa Timur terus meningkat, Sukaryo menyebutkan pada Februari 2020 angka drop out KB sebanyak 1,13 persen atau sebanyak 68.547 pasangan usia subur (PUS). Angka ini melonjak cukup tinggi di Maret 2020 yaitu mencapai 4,86 persen atau sebanyak 278.356 PUS yang putus KB.

“April angka drop out KB kembali naik hingga menyentuh angka 7.07 persen atau sebanyak 414.708 PUS yang putus KB,” sebutnya.

Berpotensi Terjadi Kehamilan Tak Diinginkan

Tingginya PUS yang putus KB, jelas Sukaryo sangat berpotensi akan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Sebab, rata-rata PUS yang ikut ber-KB merupakan pasangan yang tidak ingin menambah anak lagi dan atau pasangan yang ingin menunda kehamilan. Namun, tingginya angka drop out KB ini sangat rawan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena intensitas bertemu pasangan usia subur ini sangat tinggi di masa pandemic Covid 19 dengan seruan pemerintah untuk stay at home atau work form home (WFH) ini.

“Kalau wanita tidak ingin hamil lalu hamil pastinya sangat berpengaruh terhadap pola hidupnya, apalagi di masa pandemi seperti ini sangat bahaya bagi wanita yang hamil di usia kehamilan three semester pertama yang sangat berpotensi menurukan imun wanita. Kalau imun turun kan sangat berpotensi terjangkit Corona,” jelasnya.

Sukaryo menjelaskan selain rawan terhadap Corona, selama ini banyak wanita yang hamil tidak diinginkan akan menempuh jalur aborsi. Di era pandemi seperti ini tentunya resiko yang harus ditanggung pun semakin besar, sekalin resiko kesehatan reproduksi si wanita tersebut juga rawan terjadinya penularan Covid-19.

Kalaupun tidak digugurkan, Sukaryo menambahkan kebiasaan yang selama ini ada, jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan maka asupan gizi pun tidak terlalu diperhatikan. Alhasil, ini akan sangat berpengaruh pada perkembangan janin di dalam kandungan dan bila ini dibiarkan maka sangat berpotensi terjadinya stunting pada bayi.

“Maka kami mohon agar para pasangan usia subur untuk menunda kehamilan atau tidak hamil dahulu di era pandemi seperti ini. Kawin boleh, nikah boleh tapi hamil jangan dulu,” imbaunya.

Disinggung soal data kehamilan di Jawa Timur, Sukaryo menjelaskan antara Februari hingga April masih tercatat diatas 220 lebih wanita hamil. Namun data April menunjukkan penurunan karena mungkin terjadi kelahiran di bulan April ini, sehingga tidak lagi tercatat di data kehamilan.

“Untuk potensi terjadinya kehamilan terkait dengan tingginya angka drop out KB, baru bisa dilihat pada akhir tahun, apakah terjadi kenaikan signifkan di data kehamilan atau tidak,”pungkasnya. (sis/ayn)

Editor : Ayun Rahmawati

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru