MERAHPUTIH I SURABAYA – Upaya memperkuat kemandirian gula nasional kembali mengemuka. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa penguatan sektor pergulaan harus dimulai dari hulu, yakni petani tebu, hingga hilir melalui pengembangan industri berbasis daerah.
Hal itu disampaikan Lia saat bertemu Direktur Sugar Group Nusantara (SGN), M. Fakhrur Rozi, di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas strategi besar menjadikan Jawa Timur sebagai pusat kekuatan gula nasional yang berdaya saing.
Baca juga: Lia Istifhama: HUT ke-120 Kota Blitar Momentum Transformasi Nyata
Menurut Lia, posisi Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain sebagai daerah penghasil utama, provinsi ini juga berperan besar dalam memenuhi kebutuhan gula rumah tangga nasional.
“Jawa Timur ini bukan sekadar produsen, tetapi lumbung gula nasional. Penguatan sektor ini harus menjadi prioritas, baik dari sisi petani maupun industrinya,” ujar Lia.
Data menunjukkan lebih dari separuh kebutuhan gula rumah tangga di Indonesia disuplai dari Jawa Timur. Kondisi ini menempatkan provinsi tersebut sebagai episentrum industri gula, dengan rantai ekosistem yang melibatkan petani, pabrik gula, hingga dukungan kebijakan pemerintah.
Namun, Lia mengingatkan bahwa keberlanjutan sektor ini sangat ditentukan oleh kesejahteraan petani tebu. Ia menilai, kebijakan yang berpihak kepada petani menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi.
“Interaksi dengan petani menjadi kunci. Kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan melalui perbaikan budidaya dan dukungan kebijakan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas benih, pemanfaatan teknologi pertanian, serta program intensifikasi untuk mendongkrak produktivitas tebu di tingkat petani.
Baca juga: Lia Istifhama Optimistis PSEL Jatim Jadi Role Model Nasional Pengelolaan Sampah
Tak hanya berhenti pada sektor pangan, Lia melihat potensi besar tebu sebagai sumber energi baru terbarukan. Produk turunan seperti molase dinilai dapat dioptimalkan menjadi bioetanol, yang berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil.
“Orientasi ke depan bukan hanya gula, tetapi juga energi. Bioetanol menjadi peluang besar, apalagi Jawa Timur punya basis produksi tebu yang kuat,” katanya.
Menurutnya, integrasi antara sektor pangan dan energi merupakan langkah strategis yang harus segera diwujudkan melalui hilirisasi industri.
“Kita tidak boleh berhenti di bahan mentah. Hilirisasi penting agar tebu bisa menjadi bagian dari solusi energi nasional,” ujarnya.
Baca juga: Lia Istifhama Tegaskan Pembatasan Medsos Anak Mulai Berlaku 28 Maret 2026
Selain aspek ekonomi, Lia juga menyoroti peran perempuan dalam industri gula yang dinilai cukup signifikan. Keterlibatan perempuan, baik sebagai petani maupun pelaku usaha, menjadi bagian dari penguatan sektor berbasis pemberdayaan masyarakat.
“Banyak perempuan yang terlibat di sektor ini. Artinya, industri gula juga punya dimensi sosial yang kuat,” imbuhnya.
Lia berharap, pertemuan ini dapat menjadi langkah awal dalam merumuskan kebijakan nasional yang lebih komprehensif, guna mendorong kemandirian pangan sekaligus energi berbasis potensi lokal.
“Kalau dikelola serius, sektor gula ini tidak hanya menopang kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional,” pungkasnya.(pps)
Editor : Redaksi