MERAHPUTIH I SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuat gebrakan baru dalam penyelenggaraan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) ke-34 tingkat provinsi tahun 2026. Untuk pertama kalinya, ajang yang selama ini identik dengan siswa SMK itu diperluas dengan melibatkan siswa SMA dan Madrasah Aliyah (MA).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bagian dari strategi besar untuk memetakan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di tingkat pendidikan menengah.
Baca juga: Penguatan Respons Bencana, Khofifah Resmikan Dua Fasilitas Strategis BPBD Jatim di Sidoarjo
Menurutnya, perluasan peserta LKS menjadi momentum penting untuk melihat potensi siswa secara lebih komprehensif, tidak terbatas pada jalur vokasi semata.
“Selama ini LKS identik dengan SMK, tetapi di Jawa Timur tahun ini kita libatkan juga SMA dan MA. Walaupun untuk tingkat nasional masih fokus pada SMK, kita ingin proses seleksi dan pemetaan kompetensi ini lebih luas,” ujarnya usai penutupan LKS Jatim 2026 di SMKN 12 Surabaya, Kamis malam (9/4/2026).
Langkah progresif tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Pemprov Jatim tengah mendorong integrasi kompetensi lintas jenjang pendidikan. Dengan total 56 cabang lomba yang dipertandingkan, terdiri dari 54 bidang kompetisi dan 2 bidang eksibisi, LKS Jatim tahun ini menjadi arena uji kemampuan yang semakin inklusif.
Tak berhenti di tingkat provinsi, Khofifah juga telah mengajukan usulan kepada pemerintah pusat agar ke depan LKS tingkat nasional turut membuka ruang bagi siswa SMA dan MA. Ia berharap, kebijakan tersebut dapat menciptakan ekosistem kompetisi yang lebih adil dan representatif.
Di sisi lain, prestasi Jawa Timur yang sukses meraih hattrick juara umum LKS nasional dalam tiga tahun berturut-turut turut menjadi sorotan. Atas capaian itu, Khofifah secara terbuka menyampaikan harapannya agar piala bergilir juara umum dapat menjadi milik permanen Jawa Timur.
“Kalau sudah hattrick, seharusnya piala itu bisa menjadi milik Jawa Timur. Ini bentuk penghargaan atas kerja keras siswa-siswi SMK kita,” tegasnya.
Dalam konteks kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, Pemprov Jatim juga terus memperkuat sinergi dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA). Khofifah mengungkapkan, banyak siswa SMK bahkan sudah mendapatkan “inden” pekerjaan sejak kelas XI.
Baca juga: BPN Jatim Gandeng Pesantren, Gerakkan Santri Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf
Fenomena ini menunjukkan tingginya kepercayaan industri terhadap kualitas lulusan SMK di Jawa Timur. Namun demikian, ia menekankan bahwa peningkatan keterampilan teknis harus berjalan beriringan dengan kematangan psikososial siswa.
“Kita ingin mereka tidak hanya siap secara skill, tetapi juga matang secara mental dan sosial saat masuk dunia kerja,” imbuhnya.
Sementara itu, penguatan kualitas pendidikan juga dilakukan melalui pembenahan infrastruktur. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, melaporkan bahwa pemerintah provinsi telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp45,6 miliar untuk program revitalisasi dan rehabilitasi sekolah.
Sebanyak 50 lembaga pendidikan menjadi sasaran program tersebut, dengan rincian 26 SMA, 21 SMK, dan 3 SLB yang tersebar di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Program ini merupakan kombinasi bantuan dari APBD serta dukungan pemerintah pusat.
Baca juga: Stok BBM Aman, Gubernur Jatim Imbau Warga Tak Panik di Tengah Isu Global
“Total ada 20 jenis bantuan dari provinsi dan 34 jenis bantuan dari pemerintah pusat. Ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sarana prasarana pendidikan,” jelas Aries.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Jawa Timur tetap membidik target tinggi di ajang LKS Nasional 2026. Dengan sistem seleksi yang kini lebih luas dan kolaboratif, Aries optimistis provinsi ini mampu mempertahankan posisi sebagai juara umum.
“Kami berharap para juara pertama dari tingkat provinsi bisa mewakili Jawa Timur di tingkat nasional, dan target kami piala bergilir tetap berada di Jawa Timur,” pungkasnya.
Ekspansi LKS yang dilakukan Pemprov Jatim menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak hanya berbicara soal kurikulum, tetapi juga bagaimana membuka ruang kompetisi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan demi mencetak generasi unggul di masa depan.(pps)
Editor : Redaksi