MERAHPUTIH|SURABAYA-Pandemi Covid-19 ternyata tidak membuat tukang service radio komunikasi baik handy talky (HT) atau pun rig, khususnya amatir nganggur. Justru, pandemi yang membuat sebagian besar orang work from home (WHF) menguntungkan tukang service radio amatir 2 meter band dan sejenisnya.
Service radio amatir “Rombeng” di Kawasan Domas, Menganti, Gresik salah satunya. Sang pemilik Heri “Ipung” Priyambodo mengaku, tempatnya tidak pernah sepi. “Awalnya saya membatasi pelanggan. Sebab, takut juga dengan berita-berita tentang virus Corona,” kata pria lulusan S1 sebuah Universitas swasta di Surabaya itu.
Tapi, karena pelanggannya yang rata-rata ia kenal puluhan tahun, Ipung-panggailan karibnya sedikit demi sedikit kembali membuka tempat servicenya. WFH ternyata membuat banyak orang di rumah ngebrik alias berkomunikasi via radio 2 meter band dan sejenisnya.
“Biasanya pelanggan service hingga mencari aksesoris untuk radio,” urai pria yang mengidolakan tokok ludruk Surabaya Kartolo ini.
Anggota dua meter band dan sejenisnya biasanya berafiliasi dengan Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) demikian juga Ipung. Pemilik call sign YD3EOH ini mengaku, dalam sehari minimal 6 pelanggan datang ke tempat servicenya. “Kebanyakan service radionya. Tapi banyak juga yang cari radio. Bahkan tempat service saya sering dijadikan transaksi jual beli radio. Kalau sudah begitu saya hanya bisa berdehem dan ngomong ojo lali rokok sak cepet (jangan lupa uang dengarnya),” canda Ipung.
Baca juga: Pelapor Kecewa, Terduga Pemalsu Identitas Ang Merry Tak Ditahan dengan Alasan Sakit
WFH yang dilanjutkan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid III untuk wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Gresik dan Sidoarjo) justru membuat tempat servicenya ramai. “Tapi tetap dengan standar dan protocol Kesehatan. Makanya di depan tempat service saya selalu sediakan air untuk cuci tangan plus sabun anti septic. Agar sama-sama merasa aman dan nyaman,” ungkap fans berat Bon Jovi dan Raja Dangdut Rhoma Irama ini.
Jika dirata-rata, penghasilan Ipung dari memberikan layanan service anggota brik-brikan atau breaker (istilah komunitas radio amatir anggota ORARI) di masa pandemi Covid-19 bisa mencapai puluhan juta dalam sebulan.” Kalau ngomong angka saya agak grogi. Nanti kedengaran istri nggak enak,” canda Ipung.
Baca juga: Perkuat Sinergi dengan Media, Bandara Internasional Pattimura Ambon Gelar Media Gathering 2025
Yang penting menurutnya, usahanya bisa membuat asap dapurnya tetap ngepul. “Kalau nggak ngepul nanti sama tetangga nggak enak. Kok nggak masak? Padahal kan makan tidak perlu masak dulu. Beli kan bisa heee,” jlentreh Ipung. (ono)
Editor : Eko Yudiono