Polda Sulsel Terjunkan Tim Trauma Healing

harianmerahputih.id
Petugas SAR gabungan dan warga mengevakuasi jenazah korban banjir bandang yang ditemukan di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2020). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

MERAHPUTIH| LUWU UTARA- - Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan mengerahkan psikolog Polri untuk membantu pemulihan trauma (trauma healing) setelah banjir bandang yang dialami warga Masamba Kabupaten Luwu Utara.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Ibrahim Tompo di Makassar Jumat mengatakan tim trauma healing yang diterjunkan berjumlah 10 orang dan dipimpin langsung oleh AKBP Dwitondo Widodo.

Baca juga: Satgas DSDABM Siaga 24 Jam Atasi Banjir, Tapi Sampah Warga Masih Jadi Biang Utama Genangan Surabaya

"Kita punya tim psikolog dan mereka bertugas sebagai tim trauma healing. Mereka ini sudah sering diterjunkan dalam berbagai bencana alam termasuk kemanusiaan untuk memulihkan trauma masyarakat," ujarnya.

Ia mengatakan AKBP Dwitondo yang juga Kepala Bagian Psikologi Biro Sumberdaya Manusia (SDM) Polda Sulsel sebelum ke lokasi banjir bandang di Masamba, memberikan pengarahan kepada setiap anggotanya untuk memprioritaskan pemulihan trauma itu kepada anak-anak atau orang yang tingkat traumanya tinggi akibat bencana tersebut.

Dia menyatakan musibah banjir bandang dan longsor menimbulkan trauma mendalam kepada para korbannya, bukan hanya bagi anak-anak tetapi orang dewasa juga mengalaminya.

Namun dirinya lebih menitikberatkan kepada anak-anak yang menjadi korban banjir dan longsor, apalagi banyaknya warga yang meninggal dan luka-luka semuanya terjadi di depan mata anak-anak.

"Anak-anak adalah tumpuan dan harapan kita. Kita tidak ingin ada trauma yang membekas, makanya cara ini kami tempuh," katanya.

Baca juga: Luthfi Pastikan Penanganan Banjir Terus Berjalan, Kolaborasi Pusat dan Daerah Jadi Kunci

Sebelumnya, laporan BPBD Kabupaten Luwu Utara banjir dipicu salah satunya hujan dengan intensitas tinggi. Debit air hujan mengakibatkan Sungai Masamba, Rongkang dan Sungai Rada meluap sehingga terjadi banjir bandang.

Melihat potensi ancaman banjir bandang, Kabupaten Luwu Utara termasuk wilayah yang memiliki bahaya kategori sedang hingga tinggi untuk bencana banjir bandang. Sebanyak 11 kecamatan berada pada kategori tersebut. Jumlah populasi terpapar bahaya banjir bandang mencapai 23.402 jiwa.

Pantauan BPBD setempat, cuaca pada Selasa (14/7) masih mendung di hulu sungai. Prakiraan BMKG berdasarkan dasarian II-III Juli dan I Agustus 2020 masih menunjukkan curah hujan pada kategori menengah hingga tinggi.

Baca juga: Gubernur Ahmad Luthfi Upayakan Rekayasa Cuaca untuk Tekan Banjir Semarang-Demak

Berdasarkan data sementara, korban meninggal dunia akibat musibah banjir bandang yang menerjang Kecamatan Masamba dan sekitarnya sebanyak13 orang, 10 orang mengalami luka-luka dan harus dirawat di RSUD Andi Djemma. Sementara ini ada 38 orang dinyatakan hilang sesuai dengan laporan yang masuk di posko penanganan bencana kabupaten setempat.

Banjir bandang yang membawa material lumpur dan merendam Kota Masamba tersebut terjadi pada Senin (13/7) malam sekitar pukul 20.15 WITA. Air surut menyisakan tumpukan lumpur setinggi 50-150 centimeter kemudian mengeras di pusat kota sampai ke permukiman warga.

Terputusnya listrik dan saluran telekomunikasi membuat perekonomian di ibu kota Luwu Utara itu lumpuh. (red)

Editor : Eko Yudiono

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru