MERAH PUTIH|Surabaya - Komisi C DPRD Kota Surabaya mendesak Pemkot Surabaya dan kontraktor pelaksana untuk mempercepat pembangunan Jembatan Joyoboyo. Pasalnya, hingga saat ini pengerjaan proyek yang didanai APBD Rp 39 Miliar itu baru berjalan sekitar 30-35 persen. Sementara proyek prestisius ini harus tuntas Desember 2020.
Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mengingatkan pengerjaan proyek Jembatan Suroboyo tinggal empat bulan lagi. Jika sampai pada 7 Desember 2020 fisik jembatan tidak tuntas, maka tidak ada perpanjangan kontrak. "Tidak boleh ada adendum atau perpanjangan kontrak lagi. Pemkot jangan mau diakali pelaksana proyek," tandas Baktiono, kemarin.
Jembatan Joyoboyo memiliki panjang 170 meter dengan lebar 17 meter dan tinggi pilonnya 20 meter. Sedangkan struktur jembatannya dari beton bertulang dan voided slab. "Untuk jembatan yang melintang sungai panjangnya 75 meter. Jadi, total panjang 170 meter mulai Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) hingga Jalan Pulo Wonokromo.
Dari data di LPSE, kontraktor pelaksana proyek adalah PT. Rudy Jaya yang berlamat di Jl. Gajah Mada No. 404 Janti, Tarik – Sidoarjo. Sebenarnya proyek Jembatan Joyoboyo ini dianggarkan dengan pagu Rp 65 miliar. Namun HPS yang dibuat Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menurun menjadi Rp 40.849.508.172,08. Sedang kontraktor PT. Rudy Jaya menawar menjadi Rp 39.863.911.894,36.
Jika Jembatan ini tuntas maka bisa membantu kelancaran lalulintas, terutama akses keluar masuk kota. Sehingga Jembatan Joyoboyo akan menghubungkan Frontage Road (FR) Barat Jalan Ahmad Yani melalui Jalan Pulo Tegalsari ke Jalan Joyoboyo.
“Jika cepat selesai, kan bisa segera dimanfaatkan untuk masyarakat. Pemkot juga dinilai bagus oleh masyarakat,” tegas Baktiono yang menjadi anggota dewan lima periode ini.
Menurut Baktono serapan anggaran proyek jembatan itu dilaporkan sudah di atas 50 persen. Untuk mengecek progress pembangunan, Komisi C mengecek langsung ke lokasi proyek beberapa waktu lalu. Ternyata, laporan realisasi yang disampaikan pelaksana proyek tidak sama dengan fakta fisik di lapangan.
Karena itu, Komisi C mendesak Dinas PU Bina Marga dan Pematusan untuk tidak memberikan adendum atau reschdule proyek jika nantinya tidak selesai sesuai target. “Kami rekomendasikan agar proyek tersebut dikebut pengerjaannya, kalau perlu dikerjakankan 24 jam. Karena pekerjaan proyek tersebut, saya rasa tidak ada imbasnya terhadap lingkungan maupun dampak pada lalu lintas yang ditimbulkan,” ungkap Baktiono yang juga Sekretaris DPC PDIP Surabaya ini.
Baktiono juga mengkritik, bahwa detail design engineering yang ada sama sekali tidak menampilkan Suroboyo-nya. Padahal saat hearing di Komisi C yang melibatkan Dewan Kesenian Suroboyo (DKS), diusulkan agar pembangunan Jembatan Joyoboyo perlu menonjolkan kekhasan Suroboyo-nya.
“Seperti Bung Karno membangun Tugu Pahlawan dan Monas, desain yang ditampilkan menonjokan ciri khasnya. Kalau ke Tugu Pahawan yang pasti adanya di Surabaya, begitu juga dengan Monas. Masyarakat sudah paham itu,” urai dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya Erna Purnawati mengatakan pembangunan jembatan itu terus dilanjutkan meski di tengah pandemi COVID-19 karena semua peralatan dan konstruksinya sudah impor. "Hingga saat ini pembangunan fisiknya sudah mencapai 35 persen," katanya.
Sesuai jadwal, katanya, pada Agustus mendatang sudah sampai pada pekerjaan yang di atas seperti pemasangan voided slab pada lantainya. Erna mengatakan saat ini abutment atau kepala jembatan yang berada di bagian bangunan pada ujung-ujung jembatan sudah terpasang. Bahkan, lanjut dia, oprit yang berupa timbunan tanah di sisi selatan jembatan sudah terpasang pula. "Spun pile atau tiang pancang betonnya juga sudah terpasang semuanya," ujarnya.
Erna mengatakan Jembatan Joyoboyo dengan panjang 150 meter, lebar 17 meter, dan tinggi pilon 20 meter, sedangkan struktur jembatan dari beton bertulang dan voided slab. "Nilai kontraknya Rp39 miliar dengan tanggal kontrak 15 Oktober 2019," katanya.
Ia menuturkan di area jembatan itu akan ada taman dan air mancur yang warna-warni. Bahkan, nanti juga akan ada tempat di tengah-tengah jembatan yang bisa melihat dan menikmati suasana Surabaya.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan jembatan itu didesain khusus karena nanti fungsinya tidak hanya jembatan, namun juga menjadi wahana baru untuk warga Kota Surabaya berekreasi. "Jadi, ini bukan hanya sekadar jembatan, tapi juga bisa menjadi salah satu ikon Surabaya untuk berekreasi," katanya. (ton/an/tri)
Editor : Ali Mahfud