MERAH PUTIH|SURABAYA – Tiga hari lagi pendaftaran calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya di Komisi Pemilihan Umum (KPU) dibuka. Namun hingga detik ini baru ada satu pasangan calon (Paslon) yang dipastikan maju. Yakni, mantan Kapolda Jatim Machfud Arifin dan Mujiaman Sukirno yang baru saja mundur sebagai Dirut PDAM Surabaya. Kini publik sedang menunggu paslon yang diusung PDI-P, partai yang mengantarkan Tri Rismaharini menjadi Walikota Surabaya dua periode?
Machfud Arifin (MA) dan Mujiaman diusung koalisi jumbo berisi 8 partai, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Nasdem, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dilihat dari peta kursi DPRD Kota Surabaya hasil Pemilu 2019, koalisi 8 parpol itu setara dengan 31 kursi. Jumlah itu diperoleh dari PKB 5 kursi, Gerindra (5), Golkar (5), NasDem (3), PPP (1), PKS (5), PAN (3) dan Demokrat (4)
Sedang PDI-P sebagai partai penguasa parlemen dengan perolehan 15 kursi hingga saat ini belum mengumumkan siapa pasangan calon yang akan diusung untuk menggantikan Wali Kota Tri Rismaharini dan Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana. Begitu juga dengan PSI (4 kursi) juga belum menentukan sikapnya, meski partai ini telah menggelar konvensi calon walikota Surabaya 2020.
Rencananya, PDIP baru akan mengumumkan paslon yang bertarung di Pilwali Surabaya 2020 pada Rabu besok (2/9/2020). Ini ditegaskan Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. “Puncak pengumuman calon akan dilakukan dalam Rapat DPP yang dinyatakan terbuka untuk umum, dan dilakukan secara daring pada 2 September 2020 pukul 14:00 WIB,” sebut Hasto melalui keterangan tertulis yang diterima Harian Merah Putih, Selasa (1/9).
Menurutnya, PDI Perjuangan menempatkan Kota Surabaya sebagai panggung politik utama setelah Jakarta. Surabaya tidak hanya kota terbesar kedua Indonesia. Surabaya telah menjadi best practices, kota sederet prestasi. “Surabaya sangat layak ditempatkan sebagai puncak pengumuman calon kepala daerah dan wakil kepala daerah PDI Perjuangan. Di kota inilah semangat nasionalisme dan patriotisme tumbuh subur. Di kota inilah semangat hubbul wathon minal iman berkumandang menghalau bala tentara sekutu,” papar Hasto.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Adi Sutarwijono menambahkan pengumuman pasangan cawali dan cawawali dilakukan pada gelombang terakhir karena PDI Perjuangan tidak ingin salah pilih yang bisa berakibat kekalahan. "Surabaya adalah salah satu daerah kandang banteng di Jawa Timur, sehingga menang adalah kewajiban," tandas mantan wartawan yang kini menjadi Ketua DPRD Kota Surabaya ini.
WS dan Eri
Sehari jelang pengumuman, nama-nama yang santer menguat sebagai calon wali kota yang diusung PDI Perjuangan adalah Wisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya) dan Eri Cahyadi yang kini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya. Wisnu Sakti yang akrab disapa WS merupakan kader tulen PDIP. Putra tokoh PDIP, Almarhum Ir. Sutjipto, yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Pada Pilwali 2010 silam, Risma juga meminta restu Sutjipto yang saat itu masih hidup. Pada Pilwali 2015, Risma duet dengan WS dan menang telak. Namun belakangan, hubungan WS-Risma disebut-sebut merenggang. Hingga kemudian, muncul nama Eri Cahyadi yang dikabarkan mendapat dukungan Risma untuk maju di Pilwali Surabaya 2020. Baliho dan banner bergambar Eri Cahyadi dan Tri Rismaharini muncul di mana-mana. Termasuk munculnya Relawan Eri Cahyadi yang menyuarakan tagline#Meneruskan Kebaikan.
Sempat beredar kabar, bahwa WS-Eri menjadi pasangan ideal untuk maju Pilwali 2020. Namun sejumlah relawan malah menyuarakan Eri-Armuji. Diketahui, Armudji mendaftar sebagai bakal calon wakil walikota Surabaya. Balihonya bergambar Armudji dan Eri juga berdiri di sejumlah lokasi. Armudji saat ini menjadi anggota DPRD Jatim hasil Pileg 2019. Sebelumnya ia menjadi anggota DPRD Kota Surabaya empat periode dan sempat menjadi Ketua DPRD.
Untuk diketahui, Eri Cahyadi merupakan putra asli Surabaya. Ia lahir di Kota Pahlawan itu pada 27 Mei 1977. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1999. Eri mulai menjadi pegawai negeri sipil pada 2001 dan ditempatkan di Dinas Bangunan Kota Surabaya. Kariernya terus moncer hingga mampu menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang.
Pada 2018 ia mengemban tugas sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Surabaya. Ia juga sempat menjabat sebagai pelaksana tugas Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH).
Karier Eri disebut mirip Risma sebelum kader PDIP itu menjadi Wali Kota Surabaya dua periode. Seperti diketahui, Tri Rismaharini pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Bina Pembangunan (2002), Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya (2005), dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (2008).
Risma Effect
Menurut pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam, siapapun yang diusung di Pilwali Surabaya, PDI-P tidak bisa melupakan faktor keberhasilan Tri Rismaharini yang memimpin dua periode terakhir. Surokim menyebut, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Risma masih sangat tinggi. "Berdasarkan survei, tingkat kepuasan masyarakat Surabaya ke Bu Risma masih sangat tinggi. Angkanya luar biasa," ungkap Surokim.
PDI-P, menurut dia, masih membutuhkan sosok Risma yang bisa dijadikan ujung tombak saat kampanye pilkada Surabaya nanti. "Jangan heran, nama Risma akan disebut oleh kandidat dari PDI-P. Kenapa? Kasar-kasarannya, kalau Anda di-endorse Bu Risma secara terbuka, belum kerja Anda sudah dapat basis suara pencinta Bu Risma yang luar biasa. Karena itu, Bu Risma menjadi krusial dan penting," kata Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismahrini mengaku dirinya tidak merekomendasikan nama calon penggantinya ke Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Namun Risma berharap pengganti dirinya dijabat oleh orang yang memiliki perencanaan pembangunan kota.
Selain itu dapat menerjemahkan visi dari Megawati Soekarno Putri seperti dirinya, ketika awal-awal menjadi Wali Kota Surabaya. "Ibu Mega itu sangat visioner orangnya. e-Procurement itu Kepresnya zaman Bu Mega. Saya buat e-Procurement tahun 2003, digunakan di nasional itu tahun 2010. Jadi sangat visioner ibu itu," kata Risma. (ton/ant/rga)
Editor : Ali Mahfud