MERAHPUTIH|JAKARTA-Krisis ekonomi global karena Pandemi Covid-19 memukul perekonomian Amerika Serikat. Akibatnya, angka pengangguran meningkat. Tapi, di balik itu, ada keuntungan tersendiri bagi nilai tukar (kurs) rupiah.
Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak menguat seiring bertambahnya jumlah pengangguran di Amerika Serikat (AS), seperti dilansir ANTARA.
Baca juga: SKK Migas dukung kelancaran Pengeboran Eksplorasi Markisa-001
Pada pukul 9.41 WIB rupiah menguat 29 poin atau 0,2 persen ke posisi Rp14.115 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya Rp14.144 per dolar AS.
"Dolar AS terlihat mengalami tekanan terhadap major currency seperti euro, poundsterling, dan yen, karena laporan klaim tunjangan pengangguran AS mingguan meninggi, yang artinya jumlah pengangguran bertambah," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu.
Data klaim tunjangan pengangguran awal AS meningkat menjadi 778.000 klaim pada November 2020 dibandingkan Oktober yang mencapai 748.000 klaim.
"Ini mengindikasikan ekonomi AS masih tertekan karena pandemi," ujar Ariston.
Baca juga: Kapolri Sidak ke Pasar Minggu, Cek Ketersediaan Minyak Goreng
Selain itu, lanjut Ariston, notulen rapat moneter bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), yang dirilis pagi ini juga menunjukkan pandangan bahwa ekonomi AS masih membutuhkan banyak stimulus untuk pulih dari pandemi.
Indeks dolar AS saat ini bergerak mendekati level terendah 2020 di 91,74. Posisi saat ini di 91,93.
"Kondisi indeks dolar AS yang sedang melemah ini mungkin bisa memicu penguatan rupiah terhadap dolar AS hari ini," kata Ariston.
Baca juga: Gubernur Maluku Murad Ismail Apresiasi Kinerja Disperindag
Ariston memperkirakan hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp14.100 per dolar AS hingga Rp14.180 per dolar AS.
Pada Rabu (25/11) lalu, rupiah ditutup menguat 11 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp14.144 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya Rp14.155 per dolar AS. (red)
Editor : Eko Yudiono