MERAHPUTIH|MALUKU-Pendeta Elifas Thomix Maspaitella, hari ini diteguhkan menjadi Ketua MPH Sinode Periode 2020 - 2025 dalam ibadah Minggu(28/2) di Gedung Gereja Maranatha Ambon.
Dalam Sambutan Perdananya yang diberi judul Melangkah Bersama Menuju Satu Abad Gereja Protestan Maluku(GPM) 2035, adalah wujud pengharapan Eskatologis yang lahir dari Iman, tentang penyertaan Tuhan tentang sejarah dunia, sejarah manusia dan alam semesta, sejarah GPM dan sejarah protestantisme di Indonesia yang pada 27 Februari 2021 memasuki 416 tahun.
Pengharapan itu tumbuh dari historik dan imaniah bahwa GPM sepertinya didik uhan melewati tantangan-tantangan di tiap masanya. Masa awal tumbuhnya GPM di 6 September 1935 adalah bukti bahwa Tuhan semesta alam telah bekerja 330 tahun sebelumnya. "Jadi sebelum kita lahir sebagai suatu organisasi yang besar tuhan telah mendidik kita di masa penindasan kolonial dengan kelam cerahnya," Dari dekade ke dekade hingga dekade ke 8 dan 9 ini kita pun didik Tuhan melalui dinamika sosial,politik, ekonomi dan teologi yang naik turun.
Di masa bencana kemanusiaan, dalam bencana alam dan non alam di pandemi COVID-19. Bagi kami, Tuhan menghendaki GPM untuk menjadi gereja yang empatik, gereja yang peka dan harus keluar dari eksklusifisme dan masuk ke dalam persoalan kemanusiaan yang riil. Hakekat kita sebagai keluarga Allah dan gereja orang basudara sedang diuji.
Dari masa konflik sosial dalam
situasi bencana alam dan pada masa pandemi ini kita telah menjawabnya melalui tindakan yang empatik kepada saudara tanpa mempersoalkan perbedaan status sosial, demonimasi gereja, bahkan agama dan teritori tempat tinggal.
Karena itu harapan untuk melangkah bersama ke 1 abad GPM tahun 2035 meski berangkat dari keyakinan GPM untuk mewujudkan tatanan hidup orang basudara yang damai, tatanan umat beragama yang cerdas secara teologi dan sosial, suatu model hidup keagamaan yang membuat agama-agama menjadi berkat bagi bumi yang sedang susah, berkat bagi kemanusiaan, berkat bagi datangnya tahun rahmat Tuhan bagi Maluku, Maluku Utara, Indonesia dan dunia.
GPM ke 1 abad itu mesti menjadi gereja yang mampu menyatukan, gereja yang rela memberi, rela berbagi, gereja yang membangun lintas agama seturut sikap Yesus yang meminta air dari perempuan Samaria. Gereja yang sadar bahwa dalam masyarakat yang plural dan marak terjadi ujaran kebencian dan normalisasi intoleransi, maka kekayaan kultural musti dijadikan fondasi etik dan poin restrospeksi yang kokoh bagi bangunan hidup orang basudara.
Baca juga: Pelapor Kecewa, Terduga Pemalsu Identitas Ang Merry Tak Ditahan dengan Alasan Sakit
GPM mesti sudah mengkreasikan usaha ke arah itu sekaligus membawa agama-agama masuk ke arena pemanusiaan manusia sebagai citra tertinggi agama di bumi. Agenda berikutnya adalah peletakkan dasar spiritual dan intelektualitas yang kuat kepada semua sumber daya terutama anak-anak kita melalui pendidikan.
Mengapa pendidikan anak, karena pada dekade ini anak-anak kita sedang beradaptasi dengan budaya bersekolah yang baru. Mereka telah berhasil mengubah secara cepat perilaku belajar melalui platform belajar online. tanpa disiapkan lebih awal, mereka telah masuk ke ritme era 4.0 atau 5.0, maka tugas gereja ialah memberi bekal maksimal pada pembinaan karakter.
Budaya bersekolah seperti ini sudah tidak bisa dielak lagi, sehingga peran orang tua harus lebih efektif untuk mematangkan karakter anak. Di dalamnya masih butuh upaya menyelenggarakan pendidikan bermutu kepada kelompok inklusif atau kaum difabel. Pendidikan formal gereja tetap menjadi pilihan utama penguatan spiritualitas tersebut.
Agenda berikutnya adalah membangun ketangguhan ekonomi jemaat, dengan menata pusat-pusat produksi pangan lokal dan menjadikan pangan lokal sebagai simbol ketahanan daerah berkelanjutan. Pada sisi ini gereja tentu tidak bisa berjalan sendiri, sebab kekuatan gereja terletak pada usaha membentuk dan mengubah pola pikir dan cara pandang serta etos kerja jemaat, tapi gereja perlu melakukan kerja-kerja terukur melalui kolaborasi atau model koinonia trasformatif dengan pemerintah dan stakeholder lainnya, guna merancang dan memacu pertumbuhan ekonomi daerah melalui pangan lokal.
Baca juga: Perkuat Sinergi dengan Media, Bandara Internasional Pattimura Ambon Gelar Media Gathering 2025
Kemitraan dengan pemerintah dan stakeholder lainnya akan kami letakkan disitu bahwa bersama pemerintah gereja menjadi sumber modal, moral, spiritual untuk mendorong pengelolaan modal sosial ekonomi.
Jadi Gereja dan pemerintah akan bertemu di dalam urusan pensejahteraan rakyat, urusan kemaslahatan ekonomi, kebangkitan ketahanan masyarakat, bukan pada urusan-urusan lain apalagi pada dikotomi kepentingan, padahal kita melayani pada jalan yang sama. Selain itu beberapa agenda lain yang lebih menjurus pada tugas-tugas gereja yang tetap di kerjakan sebagai panggilan suci dari Allah, dengan tetap menjadikan GPM sebagai gereja Tuhan yang kudus, gereja Tuhan yang profetik terutama usaha beriman membawa gereja Tuhan ini mencapai visi dan misi pelayanan tahap II pelaksanaan PIP dan RIP GPM 2015-2025, sambil merancang bangun PIP-RIP GPM periode 2025-2035 yang merupakan dokumen misiologis GPM memasuki 1 abad di 2035.
Dalam kerangka itulah, inilah masanya dan waktunya datang tahun rahmat Tuhan, bahwa ia akan memulihkan kita dan gerejanya untuk menjalankan misi damai sejahtera bagi dunia, sesama dan alam semesta papar Elthom. Hadir pada kesempatan itu Sekum PGI, Febry Tetelepta Stafsus Presiden. Anggota DPR RI Hendrik Lewarissa,Sekda Maluku, Kakanwil Agama Maluku Jajaran TNI/Polri Kejaksaan Tinggi Maluku, serta perwakilan Lembaga luar negeri Wycliffe Global Aliance.(boy)
Editor : Eko Yudiono