"Napak Tilas" Karir Galumbang Menak CEO PT Moratelindo

harianmerahputih.id
CEO PT Moratelindo Galumbang Menak. Foto/ist

HARIANMERAHPUTIH | JAKARTA - Galumbang Menak adalah CEO PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo). Awal karier Galumbang Menak dimulai di Telkom, setelah lulus dari Universitas Indonesia (UI).

Saat itu dia ikut ikatan dinas selama lima tahun di Telkom, yaitu periode 1992-1996.

Dari sana, Galumbang Menak pindah untuk bergabung dengan XL, periode 1996-2000, yang ketika itu masih dikuasai Grup Rajawali.

Sampai akhirnya dirinya kembali ke Telkom. Kemudian dia masuk ke Moratel pada 2004.

Ia memang pendiri perusahaan ini, tapi ada orang lain yang mengendalikan sebelumnya.

Kemudian ia aktif di jajaran direksi. Tahun 2000 sebenarnya periode pemulihan krisis ekonomi.

Waktu itu banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencari pekerjaan ke luar negeri, seperti Malaysia, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Meraka butuh komunikasi dengan sanak saudara di Tanah Air.

Nah, ide pendirian Moratel berangkat dari sana.

Semula ia menyediakan jasa telepon internasional yang murah.

Secara teknikal namanya Voice over IP (VoIP).

Zaman itu tarif telepon internasional bisa sedolar per menit. Ini termasuk mahal.

Solusinya adalah VoIP. Tapi, VoIP itu perlu sewa jaringan.

Waktu itu cuma ada dua penyedia jaringan, yakni Telkom dan Indosat, itu pun bukan punya mereka sepenuhnya.

Maka, ia membuat layanan penyedia jasa telepon murah.

Ini bermanfaat sekali bagi TKI yang mau menelepon keluarga di kampungnya.

Pasar yang bagus itu Hong Kong, karena mereka memberlakukan Sabtu-Minggu sebagai hari libur untuk asisten rumah tangga.

Para TKI ini banyak ngumpul di Victoria Park, mereka suka menelepon keluarga dan menghabiskan waktu satu hingga dua jam sekali menelepon.

Jadi, kami konsisten mengembangkan layanan itu.

Di sisi lain, pemerintah kala itu sepertinya setengah hati untuk menyediakan layanan telepon murah.

Ternyata masalahnya adalah pembangunan infrastruktur yang mahal.

Sejak itulah Moratelindo fokus pada pengembangan jaringan internet internasional.

Dijelaskan Galumbang Menak, jika ia ingat sekali waktu masih di Telkom. Ia yang memiliki latar belakang engineer, ditugaskan untuk survei gedung-gedung di Jakarta yang perlu fiber optik.

Dalam hatinya, ia bilang, agak bodoh sebenarnya survei ini, karena semua gedung di Jakarta pasti butuh fiber optik.

Sebulan setelah penugasan itu, dirinya dipanggil direksi mengenai hasil survei.

Ia jawab, nggak perlu survei karena setiap gedung pasti butuh fiber optik.

Jelas saja ia dimarahi direksi. Semenjak kuliah, ia selalu percaya internet adalah teknologi yang akan mengubah pola hidup manusia dibanding yang lain.

Internet mengubah segalanya. Itu perubahan yang tak bisa dihindari dan tak akan berhenti pergerakannya.

Terkadang ia heran, bukan para technopreneur yang mengerti konsep internet ini.

Sepuluh tahun lalu, banyak sutradara membuat film tentang teknologi, sederhananya teknologi layar sentuh.

Teknologi ini dulu cuma ada di film, sekarang terjadi di mana-mana.

Ke depannya mungkin akan hadir mobil-mobil yang bisa menyetir dengan sendirinya.

Artificial intelligence sudah terjadi sekarang. Digitalisasi tak akan pernah berhenti.

Di sini, Moratelindo bermain di infrastrukturnya.

Data hasil digitalisasi itu kan tidak terbang.

Data-data ini perlu jalan atau tempat penyimpanan dan lain sebagainya.

Misalnya dalam konsep pengembangan smart city. Banyak walikota atau gubernur yang bilang, jika mereka sudah mengadakan pembicaraan dengan pihak Google atau Sisco soal smart city.

Tapi mereka lupa, bahwa Google itu penyedia aplikasi, bukan infrastrukturnya.

Kalau mereka cuma pikir pengembangan aplikasi tanpa memikirkan infrastrukturnya, kota yang mereka buat menjadi dumb city.

Jujur, pekerjaan menggali kabel serat optik, bagi banyak orang, apalagi generasi milenial, bukan pekerjaan yang keren.

Mereka berpikirnya, lebih baik bikin berbagai aplikasi digital. Orang-orang lupa bahwa aplikasi digital tak bisa berjalan tanpa infrastruktur yang baik.

Itu yang menjadi visi kami, Moratelindo fokus di situ.

Orang-orang yang sudah mencapai puncak umumnya sepakat bahwa kesuksesan sejati tidak bisa dicapai secara instan.

Untuk meraih keberhasilan yang sesungguhnya, seseorang harus melalui tahapan jatuh bangun, berkorban, berjuang, belajar, bersabar, dan berempati.

Dalam terminologi lain, kesuksesan sejati dapat dicapai dengan cara maraton atau lari jarak jauh secara konstan, bukan sprint atau lari cepat dalam jarak pendek.

Dengan maraton, seseorang memang butuh waktu lama untuk meraih impiannya.

Namun, hasilnya akan lebih berkualitas dan berkesinambungan karena ia punya jam terbang lebih lama dan menjalani ujian lebih panjang.

Sebaliknya, dengan sprint, seseorang mungkin akan lebih cepat menggapai apa yang diinginkannya.

Tapi keberhasilan yang sudah digenggamnya akan mudah terlepas, tidak berkelanjutan, karena ia tidak melalui banyak tahapan, proses, dan ujian.

Filosofi maraton inilah yang diterapkan Galumbang Menak, baik dalam menjalankan bisnis, maupun dalam mengarungi kehidupannya.

Karena filosofi maraton itu pula, Galumbang Menak tidak ngoyo atau mematok target-target yang bombastis di PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo), perusahaan yang dinakhodainya.

Ia lebih menekankan kualitas di perusahaan infrastruktur internet tersebut.

“Yang saya inginkan bukan merajai market share. Istilahnya, meskipun market share kecil, I want to eat the best cake. Bisnis ini, seperti juga kehidupan, adalah maraton, bukan sprint,” ujar Galumbang Menak dikutip Investor Daily.

Galumbang Menak adalah generasi lama yang hidup dalam habitat baru.

Di Moratelindo, ia harus tunduk kepada para karyawan generasi milenial.

“Saya yang angkatan tua ini menyesuaikan saja. Di kantor kami sekarang disediakan fasilitas, seperti dapur dan pusat kebugaran. Tak ada sekat-sekat. Jam masuk kerja bisa fleksibel. Meeting pun tidak perlu lama-lama,” ujarnya.

Meski demikian, ia punya prinsip yang tak bisa ditawar. Hanya orang-orang terbaik yang bisa bekerja di Moratelindo.

“Bukan berarti orang terbaik itu harus jenius, yang terpenting attitude mereka,” tegas pria asal Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini. (*/her)

Editor : Agiyo monseh F

Politik
Berita Populer
Berita Terbaru