MERAHPUTIH I JOMBANG - Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Jombang menggelar Haul ke-43 Pendiri NU, KH Bisri Syansuri, Haul ke-73 Nyai Noor Khodijah dan Harlah ke-107 Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (1/2).
Hadir dalam acara haul tersebut antara lain Gubernur Jatim yang juga Ketua PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Pengasuh Ponpes Lirboyo yang juga Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Muhammad Anwar Manshur, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Madinah, Gunungpati, Semarang Habib Umar Muthohar, penceramah KH Anwar Zahid, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, Wakil ketua DPR yang juga Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar, Bupati Jombang Munjidah Wahab, Wakil Bupati Pasuruan KH Abdul Mujib Imron, Bupati Lumajang Thoriqul Haq dan sejumlah tokoh lainnya.
Baca juga: Jatim Mantapkan Diri sebagai Lumbung Ekspor Desa, 73 Desa Devisa Baru Diresmikan di TPS Surabaya
Pada kesempatan tersebut KH Abdus Salam Shohib atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Salam menyampaikan manaqib KH Bisri Syansuri.
"Sosok KH Bisri Syansuri tidak dapat dipisahkan dari gerak nadi Nahdlatul Ulama. Demikian pula kiprah dan pemikirannya turut menentukan perjalanan negeri ini. Karena itu, keberadaannya tidak semata menjadi milik Pesantren Denanyar, juga NU dan bangsa Indonesia.," kata Gus salam.
Gus Salam juga menceritakan tiga pengabdian Mbah Bisri Syansuri yang menonjol. Pertama di bidang dakwah dan pendidikan. Kedua, potret Mbah Bisri sebagai aktivis NU. Selain sebagai salah satu pendiri NU, hingga wafat Mbah Bisri masih menjabat sebagai Rais Aam PBNU.
Baca juga: Imam Utomo Kembali Pimpin PMI Jawa Timur: Aklamasi yang Menegaskan Soliditas dan Kepercayaan Publik
”Yang patut kita contoh bagi penerus beliau yang berhikmah pada NU, seperti saya sebagai Wakil Ketua PWNU Jatim, betapa Mbah Bisri sangat taat terhadap organisasi. Kepentingan pribadi beliau kalahkan kalau itu sudah menjadi keputusan organisasi,” katanya.
Ketiga adalah potret Mbah Bisri sebagai seorang politisi yang tercatat sebagai anggota DPR sampai wafat.
”Beliau memperjuangkan akidah ahlussunnah an-nahdliyah melalui perjuangan politik. Salah satu yang masih kita nikmati sampai sekarang adalah UU Perkawinan, itu hasil bahsulmasail dengan ulama se-Jombang untuk menyusun RUU Perkawinan yang disetorkan ke DPR dan menjadi keputusan,” urainya.
Baca juga: Jatim Ciptakan Lompatan Ekonomi, TransJatim Jadi Sorotan: Khofifah Raih Dua Penghargaan Sekaligus
Karena itu, kata Gus Salam, seluruh santri dan warga NU memiliki tanggungjawab untuk melanjutkan perjuangan Mbah Bisri secara kaffah. ”Kita harus melanjutkan perjuangan beliau di NU. Mari kita teladani apapun yang telah dilakukan Mbah Bisri yang mengesampingkan egonya demi untuk kekompakan, kebersamaan, dan ketaatan terhadap jamiyah,” katanya.
Selain manaqib KH Bisri Syansuri juga Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar dan KH Umar Almunthohar serta KH Anwar Zahid. (red)
Editor : prass prasetyo