MERAHPUTIH I SURABAYA - Harga kedelai impor yang masih tinggi membuat ratusan pengrajin tahu-tempe di Jawa Timur menggelar mogok produksi tiga hari mulai Senin (21/2) hingga Rabu.
Melihat kondisi tersebut, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memiliki usulan dan masukan pada pemerintah pusat menyikapi mahalnya kedelai yang hingga kini masih diimpor Indonesia.
Baca juga: Tarif Murah, Fasilitas Nyaman: Trans Jatim Gajayana Jadi Idola Baru Malang Raya
Gubernur Khofifah menyebutkan, bahwa sejatinya saat ini bea masuk kedelai impor ke Indonesia sudah nol. Namun permasalahannya adalah suplai dari negara produsen kedelai yang biasa mengirim kedelai ke Indonesia.
“Kedelai Indonesia biasanya disuplai dari Amerika. Tapi karena ada banyak gagal panen kedelai di Brazil dan Argentina, yang biasanya mengirim ke China, maka kedelai dari Amerika dialihkan untuk dikirim ke China. Sehingga di Indonesia kedelainya sangat kekurangan dan harganya sangat melonjak. Jadi meskipun bea masuknya sudah nol tetapan butuh subdisi lebih signifikan dari pemerintah,” jelas Khofifah kepada awak media.
Baca juga: Jatim Kirim Bantuan Rp5 Miliar untuk Sumatera, Khofifah: Ini Amanah dari Warga Kami
Selain itu Khofifah mengusulkan agar Indonesia harus bisa swasembada kedelai. Caranya adalah dengan melakukan penanaman kedelai secara masif dan sepanjang tahun. Bukan seperti selama ini, di mana tanaman kedelai hanya ditanam di antara musim tanam padi.
“Kan sekarang sedang dibangun food estate di Kalimantan Tengah yang luasnya 1 juta hektare. Kita tahu di Indonesia termasuk di Jatim, pada dasarnya kedelai bukan tanaman pokok, tapi tanaman di antara musim tanam padi. Maka kalau di food estate Kalteng itu katakanlah 100 ribu hektare semuanya kedelai, dan dedicated memang untuk kedelai saja, maka menurut saya hitung-hitungannya bisa untuk subsitusi impor kedelai,” jelas Khofifah.
Baca juga: Kendal Kian Berlari: Gelaran Fun Run Picu Ekonomi, Gairahkan Wisata, dan Tanamkan Budaya Sehat
Dengan penanaman yang masif dan sustainabel, menurut Khofifah, pemanfaatan food estate di Kalteng tersebut menjadi hal yang sangat potensial. Sehingga para pelaku usaha tahu dan tempe juga akan terjamin suplai bahan bakunya.
Di sisi lain, di Jatim sendiri, memang ada budidaya masif untuk kedelai edamame. Meski sama-sama kedelai, namun edamame telalu mahal jika dibuat bahan baku tahu ataupun tempe. Maka selama ini pasar kedelai edamame Jatim 90 persen ekspor. Baik dalam bentuk kedelai ataupun olahan hilirsasinya. (red)
Editor : prass prasetyo