MERAHPUTIH|SURABAYA- Tak hanya konser bersama dirumah masing-masing, yang telah dilakukan banyak artis baik luar maupun dalam negeri, sekelompok mahasiswa yang menamakan diri dalam komunitas MASTER (Masik Suka Berteater) mengekspresikan diri dalam sebuah pementasan monolog berjudul Pandemi.
"Virus Corona yang bergerak cepat membuat dunia bergerak seolah melambat. Banyak negara di dunia yang semakin kewalahan menangani Pandemi. Amerika, China, Italia, Spanyol, Jerman, dan banyak negara lain di dunia harus lockdown berjamaah. Termasuk Indonesia yang kini
belum tuntas menghambat penyebaran Covid 19," kata Penulis Naskah Pandemi, M. Afrizal Akbar.
Baca juga: ARTSUBS 2025: Kala Surabaya Menjadi Kanvas Dinamis Seni Kontemporer Indonesia
Pementasan Monolog itu, kata Affrizal yang juga Sekjen IKA Stikosa AWS, sebagai bentuk evaluasi dan kritik tentang kegagapan dunia menyikapi Pandemi. Bahkan, lanjut dia, perdebatan banyak pihak tentang teori konspirasi atas senjata biologis menggunakan virus yang banyak menjadi wacana di pelbagai negara itu dibahas pula dalam pertunjukan.
Terkait rasa kemanusiaan, Monolog Pandemi ini menyuguhkan pesan tentang kekuatan masyarakat dalam bergotongroyong, peduli sesama, hingga ciptakan lumbung pangan mandiri tanpa sentuhan pemerintah. Di
sisi lain, fakta satire juga disuguhkan saat banyak korban meninggal harus dicekal, rasa saling curiga hingga tiba-tiba ada yang mati, setiap orang berlomba mengklaim itu Corona, seolah bergaya layaknya petugas medis yang jago mendiagnosa.
Ryan Herdiansyah, adalah sang sutradra monolog ini. Seniman muda yang juga anggota Teater Lingkar Stikosa AWS, sudah malang melintang di dunia kesenian, khususnya performance art ini berpendapat,proses
pertunjukkan berbasis daring ini dikerjakan dengan cukup singkat, hanya satu minggu. "Tapi singkatnya proses produksi dan kreatif di naskah Pandemi ini bukan berarti emosi dan rasa yang kita tawarkan bukan sesuatu yang mendadak kita munculkan," katanya.
Menurutnya, menyutradarai naskah Pandemi ini memaksa dirinya untuk masuk kedalam dimensi imajinernya. "Mulai dari kondisi latar ruang, tokoh, sudut pandang, perasaan dan nuansa. Proses penyutradaraan
naskah ini rasanya sangat intim, sangat dekat dan rasa takut, amarah, sedih, kecewa yang dirasakan di naskah ini juga saya rasakan di kehidupan nyata," terangnya.
Baca juga: Bandung Jadi Episentrum Diplomasi Budaya ASEAN-India, Pameran Seni Internasional Digelar Meriah
Sementara, Gegeh B. Setiadi yang menjadi aktor menyebutkan, “Ini adalah bagian dari upaya kami mempertahankan kreativitas dalam
berkesenian. Di saat semua harus berhenti dengan social distancing, di tengah pandemi Covid-19, lakon Pandemi hadir. Lakon ini bercerita tentang kegagapan negara ketika terjadi pandemi Covid-19,” kata Gegeh.
Pementasan yang difasilitasi Dewan Kesenian Kota Surabaya itu juga didukung oleh tim kreatif dari Teater Geo, Unipa. Meski ditengah pandemi, dengan menerapkan physical pertunjukan monolog ini mampu
membuat sekitar 120 penonton tak berkedip. (ayn)
Baca juga: Gubernur Khofifah Apresiasi 1000 Seniman dan Luncurkan Kalender Wisata Jatim 2025
Editor : Ayun Rahmawati