Dinkes Yogyakarta Minta Kabupaten Kota Maksimalkan Rapid Tes

Penggunaan Rapid Diagnostic Test atau RDT (Foto: HMP/Hdw)
Penggunaan Rapid Diagnostic Test atau RDT (Foto: HMP/Hdw)

MERAHPUTIH I YOGYAKARTA - Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembayun Setayning Astutie meminta tenaga kesehatan di Kabupaten/Kota segera menggunakan rapid diagnostic test atau RDT.

“Kami meminta pemanfaatan RDT untuk screening terutama mereka yang kurang mampu, termasuk pekerja migran, dan sebagainya. Selama ini, RDT dipersepsikan hanya untuk pelacakan kasus,” ucap Pembayun, Selasa (28/4).

Langkah ini menurut Pembayun sebagai intervensi pemerintah pada kelompok yang terdeteksi sehingga karantina wilayah dapat diperkuat. Dari hasil RDT nantinya bisa dipetakan apakah itu kasus baru ataukah kasus import serta menjadi referensi pengambilan kebijakan bagi aparat di tingkat kecamatan.

Pembayun menyatakan 15.900 RDT dari 20.400 yang diterima dari pusat sudah disalurkan ke enam instansi yang membutuhkan dan bertugas memantau penyebaran serta penanggulangan Covid-19.

“Dari jumlah yang telah didistribusikan, terdapat 5.049 yang hasilnya sudah dapat diketahui yakni 4.874 negatif, 99 positif, dan terjadi error pada 78 RDT,” katanya.

Sementara itu Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta selama tiga hari kedepan akan menggelar rapid diagnostic test (RDT) Covid-19 massal. Menyasar 200-an orang per hari, kegiatan ini digelar untuk memperluas jangkauan pada masyarakat yang terpapar.

Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja menyatakan RDT ini digelar pasca kedatangan 1.200 alat pengadaan mandiri pada Senin (27/4) kemarin.

Sebelumnya, dari Pemda DIY, sebanyak 1.200 rapid test juga sudah diterima dua minggu lalu yang lantas disebar ke 17 Puskesmas. “Jadi RDT tidak hanya hari ini sampai luas, namun sudah dilakukan sejak dua minggu lalu terutama di Puskesmas. Di tingkat kecamatan ini sasaran adalah orang-orang yang memiliki kontak erat, pernah melakukan perjalanan jauh, dan ODP,” kata Agus.

Dinkes menargetkan RDT massal yang ini jumlah masyarakat yang terpapar bisa diketahui dan dilakukan karantina di RS Darurat Bambanglipuro. Hasil identifikasi ini sebut Budi bisa dikatakan sebagai puncak penyebaran Covid-19 sehingga bisa dilakukan upaya pelambatan dan segera selesai.

“Di dua hari pertama ini, RDT Covid-19 di sini kita prioritaskan kepada kelompok masyarakat yang bertugas dalam rangka penanggulangan penyebaran semisal anggota BPBD, PMI, Kepolisian, ASN tingkat Kecamatan, termasuk wartawan,” kata Agus.

Secara teknis, Gus Bud panggilan akrab Agus Budi Raharja menyebut para peserta RDT nanti akan menjalani pemeriksaan sebanyak dua kali untuk memastikan tertular Covid-19 atau tidak. Pemeriksaan kedua akan dilakukan 10 hari pasca rapid test pertama.

"Jika memang nanti dirasa hasil RDT massal ini belum memenuhi target, kita akan menggelar kegiatan yang sama dengan menyasar sampai ke tingkat dusun," ujarnya.(hdw/tji)

Editor : Tudji Martudji