Peningkatan Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Timur Memunculkan Kewaspadaan
MERAHPUTIH I SURABAYA - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menarik perhatian di Jawa Timur (Jatim) dengan kasus yang mengalami peningkatan pada awal tahun ini. Penjabat (Pj) Gubernur Jatim, Adhy Karyono, mengakui situasi tersebut namun menegaskan bahwa kasus yang terjadi bisa dikendalikan.
Menurut data yang diterima oleh Adhy, terdapat sekitar 200 kasus PMK di Jatim saat ini, dengan Pasuruan menjadi daerah yang paling terdampak, mencatat 145 kasus dengan 31 sapi dilaporkan meninggal hingga 20 Februari 2024.
"Tidak mengkhawatirkan, tidak signifikan (kenaikan kasusnya) tetapi tetap harus didata," ujar Adhy saat mengunjungi Dinas Peternakan Jatim.
Adhy juga mengajak masyarakat dan peternak untuk tetap tenang dan percaya pada upaya pemerintah dalam menekan penyebaran PMK. Langkah-langkah seperti vaksinasi PMK dan pengawasan lalu lintas ternak menjadi fokus utama dalam upaya ini.
Kepala Dinas Peternakan Jatim, Indyah Aryani, menjelaskan bahwa meningkatnya kasus PMK disebabkan oleh belanja sapi dari Jawa Tengah yang belum divaksinasi. Faktor cuaca musim penghujan juga memperparah penyebaran virus.
"Saat ini vaksinasi PMK sedang didistribusikan kembali untuk memastikan sapi-sapi lebih siap dan tidak mudah terserang virus," ujarnya.
Indyah meminta kerjasama dari pemerintah daerah, KUD, dan Veteriner untuk memperhatikan lalu lintas ternak di Jawa Timur guna mencegah penyebaran lebih lanjut dari virus PMK ini. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu resah karena upaya pencegahan telah dilakukan secara intensif.
Situasi ini menunjukkan pentingnya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan kesehatan hewan yang potensial mengganggu kestabilan peternakan dan kesejahteraan ekonomi peternak di Jawa Timur. (red)
Editor : prass prasetyo
Harian Merah Putih