Festival Ketapang Night Culture 2024: Perayaan Kreativitas dan Kebudayaan Lokal di Probolinggo

Perum Kopian Kelurahan Ketapang menjadi pusat perayaan budaya lokal dengan diselenggarakannya Ketapang Night Culture, Rabu (22/5)
Perum Kopian Kelurahan Ketapang menjadi pusat perayaan budaya lokal dengan diselenggarakannya Ketapang Night Culture, Rabu (22/5)

MERAHPUTIH I PROBOLINGGO- Perum Kopian Kelurahan Ketapang menjadi pusat perayaan budaya lokal dengan diselenggarakannya Ketapang Night Culture. Festival ini diwarnai oleh puluhan pertunjukan kesenian, termasuk tarian, peragaan busana, atraksi kolosal, bela diri, dan musik khas daerah setempat, Rabu (22/5) malam, 

Acara yang diikuti oleh lima RW dari kelurahan ini mendapatkan apresiasi dari Penjabat Wali Kota Probolinggo, Nurkholis, yang menilai bahwa ajang kreativitas ini memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar.

“Malam ini kita menyaksikan wujud dari kreativitas dan inovasi yang lahir dan tumbuh di masyarakat. Multi effect dari festival ini sangat banyak, tidak hanya menunjukkan seni dan budaya, tapi juga ada UMKM yang menjual berbagai macam produk lokal. Dengan begitu bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Pj Wali Kota Nurkholis.

Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dengan pembukaan Tari Gambir Anom, diikuti dengan peragaan busana Pelangi Batik Kopian Barat dari kontingen RW 5. Batik ini memiliki corak yang mempesona, beraneka ragam, dan warna-warni, seperti pelangi yang menggambarkan keceriaan dan karakter warga.

Selanjutnya, atraksi pencak silat dari Persaudaraan OCC Pangastuti Probolinggo memukau penonton dengan demonstrasi kekuatan fisik, seperti menghancurkan genting dan obor. Atraksi ini menggambarkan semangat para kesatria yang memegang teguh nilai-nilai kebajikan dan budi pekerti luhur.

Komunitas Animal Lovers Probolinggo turut hadir dengan memamerkan berbagai koleksi reptil dan unggas. Pertunjukan lainnya termasuk atraksi Kungfu Kera Sakti dan peragaan busana berbahan daur ulang plastik dari kontingen RW 4, serta pertunjukan Kolosal Yuyu Kangkang dari kontingen RW 3 dan Fashion Etnik Budaya Nusantara dari kontingen RW 2.

Penampilan pamungkas datang dari kontingen RW 1 dengan kesenian Ogoh-Ogoh yang diiringi musik Daul Khas Ketapang di atas kereta kencana. Pj Wali Kota Nurkholis pun berbaur bersama warga dengan turut menaiki kereta kencana, diikuti oleh Kepala Dispopar Rachmadeta Antariksa dan Camat Kademangan Gofur Effendy.

Camat Gofur menegaskan bahwa festival ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan sektor UMKM.

“Terdapat produk-produk UMKM, kemudian ada kebudayaan yang ada di Kelurahan Ketapang bisa kita gali sekaligus untuk promosi,” ujarnya.

Bambang, salah satu peserta dari UMKM Poklahsar Kelurahan Ketapang, mengungkapkan bahwa bazar di festival ini sangat membantu dalam mempromosikan produk-produk usahanya.

“Kami mengembangkan dari ibu-ibu UMKM yang berhubungan dengan kelautan dan pertanian, sekaligus saya juga menyediakan bibit-bibit sayuran. Ada juga kopi dengan beberapa varian seperti kopi herbal dan kopi mangrove. Kemudian ada madu dan beberapa produk olahan makanan hasil laut. Dengan adanya bazar ini terbantu. Kita harus mempromosikan diri dan punya nilai jual,” tuturnya.

Ketua Pokmas Bromo Mandiri Kelurahan Ketapang, Bambang Supriyadi, berharap bahwa festival ini akan menjadi pusat kegiatan gelar budaya di Kecamatan Kademangan.

“Dengan diadakannya kegiatan ini, saya berharap nantinya menjadi pusat dari kegiatan gelar budaya di Kecamatan Kademangan. Kalau kita bisa berkolaborasi dengan kelurahan lainnya kenapa tidak,” harapnya. (red) 

Editor : prass prasetyo