Corona di Pabrik Sampoerna Masih Misteri, Perlu Diinvestigasi

MERAH PUTIH | Surabaya – Belum tuntasnya kasus penyebaran virus Corona (Covid-19) di klaster PT HM Sampoerna Tbk membuat sejumlah pihak was-was. Setelah 65 karyawan positif corona dan dua diantaranya meninggal, sebanyak 165 karyawan pabrik rokok di kawasan Rungkut, Surabaya itu menjalani swab mandiri. Masalahnya, hingga kini Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim belum mendapatkan hasilnya. Tempat isolasinya juga dirahasiakan. Anggota DPR RI meminta agar hal itu dilakukan investigasi.

Lisa, penjual takjil di sekitaran pabrik rokok sampoerna Rungkut 2 mengaku khawatir. Namun ibu-ibu ini hanya bisa pasarah agar keluarganya dan warga sekitar pabrik tak sampai terpapar virus mematikan itu.

"Khawatir ya pasti mas, apalagi posisi saya berjualan dekat dengan pabrik Sampoerna. Karyawannya juga banyak kos di sekitar sini,” ujar Lisa saat ditemui wartawan Harian Merah Putih, Kamis (7/5/2020) sore.

Untuk antisipasi, lanjut Lisa, warga selalu memakai masker dan handsanitizer. “Selain itu, kami hanya bisa berdoa semoga dijauhkan dari covid-19," lanjut Lisa.

Sedang warga di sekitaran pabrik rokok PT HM Sampoerna Rungkut 1 di Jalan Rungkut Industri, juga mengaku khawatir. Hanya saja, tak sekhawatir warga di sekitar pabrik Rungkut 2. "Karena yang terkena corona kan yang di Kali Rungkut (Pabrik Sampoerna Rungkut 1, red). Kalau di sini informasinya belum ada yang kena," cetus Supardi, warga Rungkut Kidul Surabaya.

Meski begitu, Supardi mengaku sebelumnya para pedagang di sekitar pabrik Sampoerna Rungkut 1 sempat dilarang berjualan. Sebab, ada isu salah satu karyawan di pabrik rokok itu ada yang terpapar corona. "Kemarin para pedagang makanan dan minuman itu sempat dilarang jualan, tapi sekarang sudah tidak lagi," ujar pria yang akrab dipanggil Pak Kempong itu.

Supardi menambahkan untuk warga yang memiliki kos-kosan di lingkungan Rungkut Kidul gang III dan V hingga saat ini dilarang menerima penghuni baru. "Antisipasi ketua RT di Rungkut Kidul gang III dan V warga dilarang menerima penghuni kos baru. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 di wilayah tempat tinggal kami," tutur pria yang istrinya juga bekerja di pabrik rokok Sampoerna Rungkut 1.

Sementara itu, Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Kohar Hari Santoso mengakui hingga detik ini pihaknya belum mendapatkan hasil tes swab atau polymerase chain reaction (PCR) 165 karyawan PT HM Sampoerna Tbk. Ia mengatakan masih menelusuri hasil swab mandiri tersebut dengan bekerjasama dengan pihak rumah sakit.

"Untuk 165 (pegawai pabrik rokok Sampoerna, red) yang tes swab mandiri, kita masih telusuri kita koordinasikan dengan rumah sakit," kata dr Kohar kepada wartawan, Kamis (7/5/2020).

Kohar menambahkan pihaknya cukup kesulitan mencari hasilnya satu persatu. Jika hasil tes itu didapat, pihaknya akan lebih mudah melakukan penelusuran. Ia menyebut ada kemungkinan yang positif dari 165 pegawai HM Sampoerna itu.

"Sehingga saya tekankan yang positif harus dicari di mana? Karena itu nanti ada pekerjaan baru lagi buat kita," imbuhnya. Ini berarti, masih kata dr. Kohar, jika hasil tes mandiri yang dilakukan karyawan HM Sampoerna belum didapat, maka tracing atau penelusuran dari penanganan kasus itu akan terkendala.

Isolasi yang Misterius

Seperti diberitakan, sebanyak 165 karyawan PT HM Sampoerna menjalani swab mandiri. Namun hingga Kamis (7/52020), Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim belum mendapatkan hasilnya. Sebanyak 165 orang itu merupakan ring pertama tes yang dilakukan pihak PT HM Sampoerna Tbk, di luar 323 karyawan yang dirapid tes oleh Pemprov Jatim.

Sedang 323 karyawan telah dinyatakan 91 orang reaktif. Dites swab gelombang pertama, dari 91 orang tersebut hasilnya 34 positif COVID-19. Setelah tes kedua ada tambahan 29 karyawan yang hasil swabnya positif. Jadi, totalnya 65 orang positif. Dua diantaranya meninggal dunia. Dua karyawan meninggal itu merupakan kasus pertama di Klaster Sampoerna.

Menariknya lagi, hotel yang menjadi lokasi isolasi mandiri itu juga misterius. Sebab, manajemen HM Sampoerna, Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim tak pernah mengungkap keberadaannya.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Jatim dr Joni Wahyuadi menambahkan untuk pasien positif Corona yang tinggal di hotel kini telah dipindahkan. Sebelumnya, hotel tempat karyawan tersebut isolasi sempat menolak mengisolasi karyawan yang positif.

"Jadi klaster Sampoerna yang di hotel pertama sudah dipindah semua di hotel yang kedua. Yang di RS sudah dibawa pulang ke rumah, insyaallah dalam satu dua hari ini ada hasil," papar Joni.

Harus Diinvestigasi

Anggota Komisi VI DPR meminta perusahaan yang karyawannya terpapar COVID-19 untuk diinvestigasi, terkait kepatuhan terhadap protokol kesehatan COVID-19. Termasuk kasus corona yang terjadi di pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk di Surabaya. Herman Khaeron menyinggung soal Surat Edaran (SE) Menperin No. 7 Tahun 2020 yang merestui kawasan industri yang dapat menjalankan kegiatan usaha di tengah pandemi COVID-19.

Ini menjadi penting, mengingat PT. HM Sampoerna Tbk di Rungkut, Surabaya, menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 setelah adanya dua pekerja pabrik rokok itu meninggal karena positif corona. Tak hanya itu, sebanyak 17 dari total 214 buruh linting di Pabrik Rokok Mustika, Tulungagung, Jawa Timur, juga dinyatakan reaktif infeksi virus corona setelah dilakukan pemeriksaan secara massal menggunakan alat rapid test atau tes cepat corona.

Menurutnya, dalam SE Menperin itu diatur batasan-batasan yang harus dipatuhi oleh perusahaan. "Pihak perusahaan juga harus menyiapkan sarana penangan COVID 19 bagi para karyawan yang terindikasi terinfeksi," ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi meminta semua jajarannya untuk memantau dan mengawasi secara ketat setiap kegiatan industri yang masih diberikan izin operasi. Pengawasan yang ketat, termasuk dalam penerapan protokol kesehatan penting dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran COVID-19, seperti terjadi di pabrik rokok HM Sampoerna.

"Harus dicek di lapangan mereka melakukan protokol kesehatan secara ketat atau tidak," kata Jokowi dalam rapat terbatas yang disiarkan secara live di akun YouTube Setpres.

Direktur PT HM Sampoerna Tbk Elvira Lianita, menjelaskan sejak pertengahan Maret 2020, pihaknya telah meningkatkan protokol keselamatan, kesehatan, dan sanitasi sesuai anjuran pemerintah. "Kami melaporkan penerapan (protokol) ini kepada Dinas Tenaga Kerja setempat dan menerima kunjungan inspeksi untuk melihat pelaksanaan di lapangan," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (4/5).

Protokol yang telah diterapkan di pabrik tersebut, antara lain melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin di seluruh area produksi dan fasilitas umum, membatasi akses ke fasilitas produksi, dan melakukan pengecekan suhu temperatur tubuh ketika memasuki area kantor/produksi.

Pihaknya juga telah menyediakan dan mewajibkan pemakaian masker dan hand-sanitizer, menerapkan jarak fisik ketika karyawan melakukan perjalanan ke dan dari pabrik, serta menerapkan sistem kompartemen untuk membatasi interaksi karyawan. (her/ton/int/red)

Editor : Ali Mahfud