Emil Dardak Soroti Pertumbuhan Investasi di Jatim dalam Mukota VII Kadin Surabaya

Emil Elestianto Dardak menjadi narasumber dalam Musyawarah Kota (Mukota) VII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya yang digelar di Ballroom Hotel Westin, Kamis (17/10)
Emil Elestianto Dardak menjadi narasumber dalam Musyawarah Kota (Mukota) VII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya yang digelar di Ballroom Hotel Westin, Kamis (17/10)

 MERAHPUTIH I SURABAYA - Emil Elestianto Dardak menjadi narasumber dalam Musyawarah Kota (Mukota) VII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya yang digelar di Ballroom Hotel Westin, Kamis (17/10). Acara ini bertema Kadin Maju, Surabaya Melaju dan dihadiri perwakilan dunia usaha dan industri, Forkopimda Kota Surabaya, perwakilan negara sahabat, serta organisasi kepemudaan.

Di hadapan pelaku usaha dan industri, Emil menyoroti pertumbuhan iklim investasi di Jawa Timur serta potensi untuk terus ditingkatkan. Ia memaparkan beberapa kunci sukses Jatim dalam mendongkrak investasi, baik dalam negeri maupun luar negeri, selama lima tahun terakhir.

“Jawa Timur sebagai provinsi dengan ekonomi terbesar kedua di Indonesia memiliki ekosistem bisnis yang kondusif, dengan banyak kemudahan yang bisa didapatkan oleh para investor,” ungkap Emil.

Salah satu kemudahan yang disoroti adalah insentif perpajakan, seperti PPN, PPh, dan Bea Masuk di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik dan KEK Singhasari, bagi investor dengan nilai minimal Rp. 100 miliar. Ia juga menambahkan bahwa KEK Singhasari kini sudah beroperasi dengan kehadiran salah satu kampus ternama dunia.

Investasi di Jawa Timur juga diperkuat dengan adanya East Java Investment Hub, yang menyediakan informasi melalui East Java Potential and Opportunity Investment (POINT) dan Jatim Online Single Submission (JOSS) untuk memfasilitasi perizinan secara lebih mudah.

“Kuncinya adalah one stop service, jangan njelimet,” tegas Emil, sembari menjelaskan bahwa kontribusi ekonomi Jawa Timur mencapai hampir 10ri perekonomian Asia Tenggara, menjadi bagian dari rencana pengembangan wilayah prioritas nasional.

Ia juga menyoroti peran strategis wilayah Gerbangkertasusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) dalam memajukan industri dan ekonomi Jawa Timur. Surabaya, sebagai pusat dari kawasan tersebut, menjadi kontributor besar dalam pertumbuhan ekonomi Jatim.

Ketua Kadin Surabaya, Ali Afandi, turut menyatakan komitmen Kadin sebagai mitra pemerintah dalam menjaga iklim investasi yang kondusif di Jatim.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan para pemimpin seperti Mas Eri Cahyadi dan Mas Emil Dardak, untuk memastikan Jatim menjadi pusat gravitasi ekonomi,” ujar Ali.

Pada tahun 2023, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Jatim mencapai Rp. 74,9 triliun, hampir menyamai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp. 70,2 triliun, menunjukkan tren positif yang ingin terus ditingkatkan. (red) 

 

 

Editor : prass prasetyo