Debat Kedua Pilgub Jatim 2024: Khofifah-Emil Tampil Memukau, Paslon Lain Minim Data

Suko Widodo, pakar komunikasi dan politik dari Universitas Airlangga Surabaya.
Suko Widodo, pakar komunikasi dan politik dari Universitas Airlangga Surabaya.

MERAHPUTIH I SURABAYA - Debat kedua Pilgub Jatim 2024 berlangsung sengit. Ketiga pasangan calon (paslon) berlomba menampilkan visi dan misi yang siap dijalankan bila terpilih. Momen ini pun menjadi sorotan publik dan para pakar, termasuk Suko Widodo, seorang pakar komunikasi dan politik dari Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut Suko, pasangan petahana Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak tampil paling memikat. "Paslon nomor dua ini benar-benar istimewa. Penyampaian visi mereka sangat komprehensif dan realistis, ditambah pengalaman memimpin yang menjadi nilai tambah besar," ujar Suko pada Senin (4/11/2024).

Suko menekankan bahwa Khofifah dan Emil tidak hanya berbicara berdasarkan wacana, tetapi juga fakta dan data konkret yang relevan. "Keduanya memiliki pemahaman mendalam tentang Jawa Timur. Apa yang dipikirkan atau direncanakan paslon lain, mereka sudah mengerjakannya," jelas Suko.

Ia juga menilai bahwa pasangan ini memiliki kelengkapan data dan struktur visi yang baik. "Secara keseluruhan, paslon nomor dua tampil sempurna. Mereka menunjukkan kemampuan mengelola Jawa Timur dengan akuntabilitas tinggi," tambahnya.

Namun, tidak demikian dengan paslon lainnya. Menurut Suko, pasangan Risma-Gus Hans terlalu berfokus pada slogan kampanye tanpa dukungan data yang kuat. "Gagasan mereka menarik, tetapi kurang disertai fakta lapangan. Namun, gaya komunikasi mereka teduh dan menarik perhatian audiens," ungkap Suko.

Untuk pasangan Luluk-Lukmanul, Suko menyebut gaya komunikasi mereka cukup baik, tetapi tidak didukung informasi lengkap. "Luluk-Lukman membawa data yang cenderung bias, tidak mencerminkan kondisi yang menyeluruh," tambahnya.

Debat kedua Pilgub Jatim 2024 kali ini mengusung tema besar “Tata Kelola Pemerintahan yang Efektif dan Inovatif serta Pelayanan Publik yang Inklusif,” yang terbagi dalam delapan subtema, mulai dari “Budaya dan Birokrasi Modern” hingga “Mitigasi Bencana dan Bantuan Sosial yang Berkeadilan.” Topik-topik ini menyoroti aspek penting dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Berbeda dari debat pertama, kali ini jumlah pendukung di venue dibatasi hanya 100 orang per paslon. KPU Jatim juga memberikan tambahan waktu untuk penyampaian visi-misi setelah evaluasi dari debat pertama.

"Durasi waktu untuk visi-misi memang kami perpanjang karena dianggap terlalu singkat pada debat sebelumnya," ungkap Ketua KPU Jatim Aang Kunaefi.

Debat ini merupakan bagian dari tiga rangkaian debat yang diselenggarakan KPU Jatim, di mana semua paslon yang berpartisipasi memiliki calon gubernur perempuan. Debat terakhir akan menjadi kesempatan pamungkas bagi paslon untuk menyampaikan gagasan yang mampu menarik perhatian pemilih di Jawa Timur.

Editor : prass prasetyo