Surabaya Wujudkan Museum Inklusif dengan Narasi Huruf Braille
MERAHPUTIH I SURABAYA - Surabaya semakin menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ruang publik yang inklusif. Kali ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melangkah maju dengan menambahkan narasi berhuruf braille pada koleksi Museum 10 Nopember dan Tugu Pahlawan. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengunjung tunanetra dapat mengakses informasi secara mandiri saat mengunjungi museum bersejarah tersebut.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya Pemkot dalam menghadirkan kesetaraan bagi semua lapisan masyarakat. "Museum harus menjadi ruang yang bisa dinikmati semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Dengan adanya narasi huruf braille, Museum 10 Nopember dan Tugu Pahlawan bisa lebih ramah bagi pengunjung disabilitas," ungkapnya, Selasa (18/2/2025).
Proses pemasangan huruf braille ini tak dilakukan sembarangan. Pemkot Surabaya menggandeng akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) guna memastikan bahwa informasi yang disajikan tetap akurat dan mudah dipahami. Saat ini, pemasangan dilakukan secara bertahap pada beberapa koleksi museum, serta beberapa fasilitas pendukung seperti keterangan arah dan toilet.
Selain itu, guna memberikan pengalaman yang lebih maksimal bagi pengunjung disabilitas, museum juga menyiapkan pemandu khusus yang akan membantu dalam memahami koleksi yang dipamerkan. "Pemandu akan menjelaskan koleksi yang ada, sekaligus membantu pengunjung dalam membaca narasi huruf braille. Harapannya, pengalaman mereka di museum bisa lebih bermakna," jelas Saidatul.
Ke depan, Pemkot Surabaya berencana memperluas aksesibilitas dengan menambahkan fasilitas lain, seperti audio guide, yang akan memperkaya pengalaman bagi pengunjung tunanetra. Salah satu fitur yang direncanakan adalah audio dari pidato Bung Tomo, yang menjadi koleksi unggulan Museum 10 Nopember. Bahkan, replika Tugu Pahlawan juga direncanakan untuk dibuat agar bisa diakses lebih interaktif oleh semua kalangan.
Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, mengingat museum sebagai tempat edukasi harus bersifat inklusif dan terbuka bagi semua orang. Dengan berbagai inovasi ini, Museum 10 Nopember dan Tugu Pahlawan semakin siap menjadi destinasi wisata sejarah yang ramah bagi semua, tanpa terkecuali. (red)
Editor : prass prasetyo
Harian Merah Putih