Pipa PDAM Jebol Lagi, Akibat Proyek Kampus UINSA

Genangan air di sekitar pipa air utama PDAM di kawasan Gunung Anyar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (17/5), yang jebol terkena tiang pancang proyek pembangunan kampus UINSA. HMP/Prasetyo
Genangan air di sekitar pipa air utama PDAM di kawasan Gunung Anyar, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (17/5), yang jebol terkena tiang pancang proyek pembangunan kampus UINSA. HMP/Prasetyo

MERAH PUTIH| Surabaya- Pipa air utama milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada di kawasan Gunung Anyar, Kota Surabaya, kembali jebol pada Minggu (17/5/2020). Jebolnya pipa PDAM ini akibat terkena tiang pancang dalam proyek pembangunan kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Ini kejadian kedua kalinya setelah awal Maret lalu pipa PDAM jebol terkena pancang pembangunan pelebaran Masjid di Perumahan Purimas, Gunung Anyar, Surabaya.

"Iya benar. Kami di lapangan sedang menyelesaikan masalah tersebut," kata Direktur Utama PDAM Surabaya Mujiaman.

Menurut dia, pipa yang kali ini jebol berada sekitar 500 meter dari pipa yang beberapa waktu lalu jebol karena kena tiang pancang dalam proyek pembangunan masjid di perumahan Purimas Gunung Anyar.

Mujiaman mengatakan perusahaan sudah menghubungi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan Wali Kota Surabaya serta berkonsultasi dengan ITS agar tidak melakukan kegiatan di kawasan sekitar pipa air yang jebol. "Kami sudah melarang melakukan kegiatan di situ. Tapi tetap saja tidak diindahkan. Jadinya seperti ini," ujarnya.

Jebolnya pipa air di kawasan Gunung Anyar, kata dia, akan berdampak pada ribuan pelanggan PDAM di tujuh kecamatan di Surabaya Timur dan Surabaya Utara. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami berupaya segera memperbaikinya," kata Mujiaman.

Anggota Komisi A DPRD Surabaya Arif Fathoni meminta PDAM Surabaya meminta ganti rugi kepada kontraktor pelaksana pembangunan yang menyebabkan pipa air jebol. "Izinnya harus dicek. Kalau berizin mestinya tahu kalau di area itu ada pipa PDAM. Pihak kampus harus minta maaf atas kejadian ini," tandasnya. (an/red)

Editor : Ali Mahfud