Tersandung di Bangkalan: Persija Jakarta Dipaksa Pulang dengan Kepala Tunduk

Persija mengakhiri laga vs Madura United dengan skor 0-1 di Stadion Gelora Bangkalan, Minggu (6/4/2025) malam.
Persija mengakhiri laga vs Madura United dengan skor 0-1 di Stadion Gelora Bangkalan, Minggu (6/4/2025) malam.

MERAHPUTIH I BANGKALAN - Malam di Stadion Gelora Bangkalan tak berpihak pada Persija Jakarta. Dalam lanjutan Liga 1 2024/2025, klub kebanggaan Ibu Kota itu harus mengakui keunggulan tipis tuan rumah Madura United dengan skor 0-1. Hasil ini tidak hanya menambah catatan minor Macan Kemayoran, tetapi juga menjadi pengingat keras bahwa tim sedang tersesat dalam labirin inkonsistensi.

Satu-satunya gol yang memisahkan dua tim tercipta menjelang akhir babak pertama, tepatnya di menit ke-42. Sebuah momen krusial terjadi ketika Muhammad Ferarri dijatuhi sanksi penalti usai dianggap melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Tak cukup sampai di situ, wasit juga mengeluarkan kartu merah langsung kepada sang bek muda. Miljan Skrbic yang menjadi algojo tak menyia-nyiakan kesempatan. Carlos Eduardo terkecoh. Gawang Persija terkoyak. Dan sejak saat itu, laga berubah wajah.

Bermain dengan sepuluh orang sejak akhir babak pertama jelas bukan skenario yang diinginkan. Namun, semangat juang Persija tetap menyala. Di babak kedua, Hanif Sjahbandi dan rekan-rekannya mencoba bangkit. Serangan demi serangan diracik meski dalam kondisi pincang. Peluang demi peluang datang silih berganti, namun dewi fortuna seperti menutup mata. Gol yang dicari tak kunjung hadir. Skor 0-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Pelatih Carlos Pena tak menampik bahwa laga ini menjadi gambaran lain dari masalah mendasar yang tengah melilit timnya. Dalam sesi konferensi pers usai pertandingan, ia dengan jujur mengevaluasi bahwa kartu merah Ferarri menjadi titik balik pertandingan, sekaligus bagian dari pola kesalahan yang berulang.

“Ini pertandingan yang sulit, apalagi setelah kami bermain dengan 10 pemain. Saat masih 11 lawan 11, kami bisa mengontrol permainan, bahkan menciptakan peluang lewat sundulan Hansamu. Tapi kartu merah mengubah segalanya,” kata Pena.

Ia menambahkan, “Ini bukan kali pertama kami menghadapi situasi seperti ini. Dalam tujuh pertandingan terakhir, kami mengoleksi lima kartu merah. Itu bukan sekadar statistik, itu alarm. Kami harus bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahan ini dan segera memperbaikinya.”

Ucapan pelatih asal Spanyol itu disambut refleksi yang tak kalah serius dari gelandang senior, Hanif Sjahbandi. Mendampingi Pena di ruang konferensi, Hanif tak bersembunyi dari kekecewaan.

“Sebagai pemain, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Kami gagal membawa pulang poin, apalagi tiga. Kami sudah berusaha keras, tapi hasilnya tidak seperti yang kami harapkan. Ini pelajaran besar bagi kami semua,” ungkap Hanif dengan nada yang tak bisa menyembunyikan rasa sesal.

Persija bukan tim biasa. Mereka punya sejarah, dukungan suporter fanatik, dan reputasi yang tak bisa diremehkan. Namun saat ini, kenyataan di lapangan berkata lain. Kekalahan demi kekalahan, kartu merah yang datang silih berganti, serta permainan yang belum menemukan konsistensi, menjadi beban yang harus segera diurai.

Carlos Pena dan jajaran pelatih dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk membenahi tim, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi mentalitas dan kedewasaan bermain. Sebab, di liga seketat ini, satu momen bisa menentukan arah musim.

Bangkalan menjadi saksi jatuhnya sang macan. Tapi di balik luka ini, tersimpan peluang untuk bangkit. Asalkan ada keberanian untuk bercermin dan tekad untuk berubah, luka ini bisa menjadi awal dari penyembuhan panjang. (red)

Editor : prass prasetyo