Gubernur Khofifah Tinjau Perbaikan Tanggul Bondeli di Lumajang
MERAHPUTIH I LUMAJANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau progres penanganan darurat pembangunan tanggul dan krib Bondeli di Desa Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Minggu (25/5/2025). Perbaikan ini merupakan respons atas kerusakan infrastruktur akibat banjir lahar dingin dari Sungai Rejali yang melanda kawasan tersebut sejak awal April.
Banjir dipicu oleh hujan berintensitas sedang hingga tinggi yang terjadi selama dua hari berturut-turut. Akibatnya, debit air Sungai Rejali meningkat drastis, menggerus tanggul kiri sungai dengan ketinggian 6–11 meter dan merusak bangunan krib baik di hulu maupun hilir.

Kerusakan terbesar terjadi pada 18 Mei 2025, dengan longsornya tanggul sepanjang 280 meter dan kerusakan krib sepanjang 166 meter. Sebelumnya, pada 8 April dan 11 Mei, longsoran tanggul dan krib juga telah terjadi secara bertahap, menyebabkan kerusakan infrastruktur secara kumulatif.
Wilayah terdampak mencakup Desa Sumberwuluh di Dusun Kebondeli Selatan yang dihuni 133 kepala keluarga (KK) atau 515 jiwa, serta Desa Jugosari di Dusun Sumberlangsep dengan 139 KK atau 512 jiwa. Total dampak permukiman mencapai 272 KK atau 1.027 jiwa, dengan tambahan dampak pada lahan pertanian seluas lebih dari 165 hektar.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menetapkan status tanggap darurat untuk kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejali sejak 11 Mei hingga 8 Agustus 2025. Sejumlah upaya penanganan darurat dilakukan, mulai dari pembuatan kisdam tanggul dan krib darurat, penataan aliran sungai, hingga pemasangan bronjong.
Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah menekankan pentingnya percepatan pembangunan untuk mencegah dampak susulan.
“Anggaran sebesar Rp10,5 miliar telah disiapkan untuk membangun tanggul dan krib pengarah. Kerusakan tanggul sepanjang 280 meter ini berdampak pada rumah dan sawah warga. Jika tidak segera diperbaiki, potensi bencana susulan bisa terjadi, apalagi saat malam hari,” ujar Khofifah.
Ia juga meminta warga yang tinggal di kawasan rawan untuk melakukan evakuasi mandiri secara berkala. Menurutnya, pembangunan infrastruktur ini harus dilakukan meski dalam kondisi cuaca yang belum stabil.
“Kita harus berkompromi dengan kondisi cuaca. Meski hujan masih turun, pekerjaan harus tetap dijalankan agar masyarakat merasa aman,” ujarnya.
Kepala Dinas PU Sumber Daya Air Jawa Timur, Ir. Baju Trihaksoro, menambahkan pentingnya keterlibatan para penambang dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Jika pasir terus menumpuk dan tidak diambil, maka dasar sungai akan makin meninggi dan air akan lebih mudah meluber saat hujan. Namun, penambangan juga harus memperhatikan daya dukung alam. Jangan menambang di pinggir karena itu membuat tanggul rapuh,” katanya.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan bahwa proses perbaikan infrastruktur terkendala oleh cuaca ekstrem.
“Begitu siang dipasang, sorenya hujan, lalu bangunan rusak kembali. Namun kami terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk percepatan. Kami bersyukur Bu Gubernur sangat responsif terhadap kondisi kritis ini,” ujar Indah.
Dengan perbaikan yang sedang berjalan, pemerintah berharap potensi bencana susulan dapat diminimalkan dan aktivitas warga bisa kembali pulih.(DPR)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih