Sisa Harapan di Pantai yang Terlupa: Gubernur Jateng Tinjau Tanggul Jebol di Kramatsari
MERAHPUTIH I PEMALANG – Laut yang dulu menghidupi kini menggerus perlahan. Di tepi Pantai Kramatsari, Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, hanya suara ombak yang terus mendekat ke daratan, seakan mengabarkan bahwa waktu kejayaan telah berlalu. Di tempat ini, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berdiri, menatap langsung bekas jebolnya tanggul Kandang Jangkrik yang menjadi benteng terakhir warga melawan abrasi.
Rabu pagi (28/5/2025), Luthfi hadir bukan sekadar sebagai pemimpin, tapi sebagai saksi atas luka panjang yang dialami masyarakat pesisir. Pantai yang dahulu menjadi primadona wisata itu kini kehilangan denyutnya. Abrasi yang masif sejak 2019 telah mengikis tak hanya garis pantai, tapi juga mata pencaharian dan harapan.
“Paling pokok, masyarakat kita tidak boleh terdampak,” ucap Luthfi dengan nada tegas, namun matanya menyiratkan keprihatinan. “Jangka pendek ini harus segera kita selesaikan, sekitar satu kilometer tanggul.”
Tanggul darurat yang dibuat warga dengan bambu—disebut kandang jangkrik karena bentuknya menyerupai kotak petak—hanyalah upaya swadaya melawan ketidakpastian. Tahun 2024, mereka menanam, menata, dan menopang, berharap laut memberi jeda. Tapi awal 2025, gelombang lebih kuat dari doa mereka. Kandang jangkrik roboh, rob datang tanpa permisi, dan warga kembali menggenggam ketidakpastian.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Pemalang, Andriadi, menjelaskan, “Sempat optimis, tapi ini rusak kena gelombang tahun 2025, sehingga muncul muara-muara baru.” Kerusakan ini memicu kerentanan baru: rumah yang tergenang, jalan yang hilang, dan akses listrik yang lenyap bersama tiangnya.
Dalam kunjungannya, Gubernur Luthfi juga menekankan pentingnya langkah pencegahan jangka panjang. Ia mendorong penanaman mangrove sebagai penyangga alami. “Kita harus gerakkan semua: bupati, wali kota, Kapolres, Dandim, penggerak lingkungan, dan masyarakat. Menanam mangrove itu menyelamatkan masa depan,” kata Luthfi.
Tak hanya itu, ia memaparkan rencana lebih jauh. Untuk jangka menengah, akan dilakukan pendataan warga terdampak, termasuk kondisi tambak dan lahan pertanian yang tergenang. Sedangkan jangka panjangnya, Pemerintah Provinsi menyiapkan tanggul laut dan kolam retensi seperti di Sayung. Proyek besar ini dirancang mulai 2025 hingga 2027 dan akan menyambung pertahanan laut dari Sayung hingga Brebes.
Namun bagi Harini, seorang pemilik warung yang masih bertahan di pinggir pantai, semua rencana itu terdengar seperti gema dari kejauhan. Ingatannya masih lekat pada masa keemasan Kramatsari.
“Tahun 2017-2018 itu ramai sekali. Semalam bisa dapat Rp6 juta. Es teh saya cuma seribu rupiah waktu itu,” kenangnya, tersenyum pahit.
Kini, ia berdiri di depan warung yang tinggal separuh, dikelilingi genangan dan sunyi. Tak ada lagi anak-anak bermain, tak ada tawa wisatawan. “Tiga puluh tiga warung sudah hilang. Jalan juga amblas. Tak ada pengunjung yang bisa masuk,” katanya pelan.
Pantai Kramatsari, yang dulu jadi ruang hidup dan sumber harapan, kini menjadi pengingat betapa krisis iklim dan kelalaian tata kelola bisa merampas lebih dari sekadar lahan. Ia merenggut memori, menghapus peluang, dan menuntut tindakan nyata, bukan janji. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih