Binaraga Porprov Jatim IX 2025 Tampilkan Wajah Baru, Woman Fitness Jadi Daya Tarik Baru

Cabang olahraga binaraga dan kebugaran resmi dipertandingkan dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX/2025 yang digelar di Sasana Krida, Universitas Negeri Malang, mulai Selasa (1/7/2025).
Cabang olahraga binaraga dan kebugaran resmi dipertandingkan dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX/2025 yang digelar di Sasana Krida, Universitas Negeri Malang, mulai Selasa (1/7/2025).

MERAHPUTIH I KOTA MALANG - Cabang olahraga binaraga dan kebugaran resmi dipertandingkan dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX/2025 yang digelar di Sasana Krida, Universitas Negeri Malang, mulai Selasa (1/7/2025). Tahun ini, binaraga menghadirkan gebrakan baru dengan mempertandingkan nomor woman fitness, yang untuk pertama kalinya masuk dalam kalender Porprov.

Sebanyak delapan medali emas diperebutkan dalam kompetisi ini. Tiga di antaranya berasal dari nomor binaraga pria, sementara Lima lainnya mencakup nomor non-binaraga, termasuk athletic physique dan woman fitness. Kehadiran nomor-nomor ini menandai langkah progresif dari cabang olahraga yang selama ini lebih identik dengan binaraga konvensional.

Ketua Pengurus Daerah Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Jawa Timur, Raja Siahaan, menyatakan apresiasinya atas dukungan penuh berbagai pihak, terutama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan KONI Jawa Timur.

"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Ketua Umum KONI Jawa Timur, Bapak M. Nabil, yang telah mendukung penuh terselenggaranya pertandingan ini. Tahun ini kami juga menggunakan layar LED untuk pertama kalinya dalam Porprov, dan bisa dibilang venue di Sasana Krida ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah kami selenggarakan," ujarnya saat ditemui di lokasi pertandingan.

Sebanyak 71 atlet dari 17 kabupaten/kota turut ambil bagian dalam kompetisi tahun ini. Meski demikian, dari total 20 Pengcab PBFI yang tercatat aktif di Jawa Timur, tercatat tiga daerah absen dari ajang ini. Mereka menyatakan kesulitan merekrut atlet muda yang memenuhi batasan usia maksimal 23 tahun yang ditetapkan dalam regulasi Porprov.

“Umur emas atlet-atlet binaraga itu umumnya berkisar antara 35 sampai 40 tahun. Jadi memang tidak mudah mencari yang berusia di bawah 23 tahun. Namun, dari sisi pembinaan, ini justru jadi peluang untuk regenerasi. Kita bisa menyiapkan bibit-bibit muda agar nantinya tidak ada kekosongan atlet,” papar Raja.

Menariknya, dalam ajang Porprov kali ini, tidak satu pun atlet pemusatan latihan daerah (puslatda) Jawa Timur turun berlaga. Ajang ini murni menjadi panggung bagi atlet-atlet muda potensial dari daerah.

Peta persaingan sejauh ini menunjukkan dominasi dari empat daerah, yakni Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Blitar. Keempatnya dinilai memiliki program pembinaan yang lebih terstruktur, serta kesungguhan dalam menyiapkan atlet usia muda.

“Pembinaan di daerah-daerah ini memang lebih konsisten. Mereka punya sasana, pelatih, dan komunitas yang aktif, jadi regenerasinya berjalan,” kata salah satu pengurus teknis pertandingan.

Sementara itu, nomor woman fitness menjadi pusat perhatian pada hari pertama pertandingan. Disiplin ini menilai tidak hanya bentuk tubuh dan kekuatan, tetapi juga penampilan panggung, keanggunan, dan gaya hidup sehat yang ditunjukkan para peserta.

Langkah PBFI Jatim memperkenalkan nomor ini dipandang sebagai upaya membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam olahraga kebugaran kompetitif. Selain menjadi ajang pembinaan, nomor ini juga dinilai dapat menjadi ruang baru bagi promosi gaya hidup sehat di kalangan generasi muda.

“Ini bukan hanya soal otot, tapi juga disiplin, pola makan, dan gaya hidup. Kami ingin memperlihatkan bahwa kebugaran bisa menjadi bagian dari identitas anak muda masa kini,” ujar salah satu juri woman fitness.

Dengan antusiasme peserta dan penonton yang cukup tinggi, PBFI Jatim berharap Porprov tahun ini bisa menjadi batu loncatan untuk memperkuat ekosistem binaraga dan kebugaran di Jawa Timur. Target ke depan, bukan hanya menyiapkan atlet untuk tingkat nasional, tetapi juga menjadikan olahraga ini lebih inklusif dan membumi di tengah masyarakat. (red) 

 

Editor : Redaksi