Kabupaten Malang Pertahankan Status Juara Umum Binaraga Porprov Jatim
MERAHPUTIH I MALANG - Kompleks Universitas Negeri Malang (UNM), Selasa (1/7) — Ketika sorotan lampu Gedung Serba Guna Sasana Krida mulai meredup menandai berakhirnya kompetisi cabang olahraga binaraga Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX/2025, satu fakta tetap menyala terang: dominasi Kabupaten Malang masih belum tergoyahkan.
Seperti telah diprediksi oleh banyak pengamat olahraga, kontingen Kabupaten Malang kembali mengukuhkan diri sebagai juara umum cabor binaraga, usai mengoleksi tiga medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Ini menjadi gelar juara umum ketiga berturut-turut setelah sebelumnya berjaya di Porprov VIII Sidoarjo (2023) dan Porprov VII Situbondo (2022).
Meski perolehan emasnya sama dengan Sidoarjo yang juga mencatatkan tiga keping emas, Kabupaten Malang unggul secara keseluruhan berkat kontribusi tambahan dari medali perak dan perunggu. Kontingen Sidoarjo, meski mengejutkan banyak pihak dengan performa eksplosifnya, harus puas berada di posisi kedua. Kota Malang membayangi di peringkat ketiga (1 emas, 2 perak), diikuti Kota Surabaya (1 emas, 1 perak) di posisi keempat.
Tiga emas Kabupaten Malang kali ini dipersembahkan oleh atlet-atlet muda yang tengah menanjak prestasinya: Salsa Hafidz F di kelas +70 kilogram putra, Faaza Febriani A di kategori women model over 170 cm, dan M. Zuhdi Ammar di kelas up to 165 cm. Sementara Sheva Habib Fernanda menyumbang satu perak di kelas up to 170 cm, sedangkan dua perunggu diraih Yhan Herlambang (175 cm) dan Shilmi Permatasari (women model).
Raihan ini membuktikan keberhasilan Malang menjaga kesinambungan pembinaan atlet binaraga. Bahkan, sebagian besar nama yang tampil sebagai juara bukanlah nama-nama lawas, melainkan wajah-wajah baru yang sudah mampu tampil prima di pentas kompetitif.
"Keberhasilan ini bukan sekadar angka medali. Ini adalah cerminan dari sistem pembinaan jangka panjang yang berkesinambungan," ujar pelatih kepala kontingen Kabupaten Malang, Rino Setiadi, usai pengalungan medali terakhir.
Di sisi lain, penampilan Kabupaten Sidoarjo menjadi kejutan tersendiri. Jika pada Porprov sebelumnya hanya menjadi penggembira, tahun ini mereka hadir sebagai penantang serius. Tiga emas berhasil mereka rebut lewat penampilan impresif M. Febriantro Zakarya (60 kg), Alung Rivaldy (up to 170 cm), dan Maftach Osyiqlaila Agustina (women model).
“Saya tidak menyangka kami bisa menandingi Malang dalam hal emas. Tapi ini jadi motivasi untuk kami memperbaiki peringkat keseluruhan di masa depan,” ujar pelatih Sidoarjo, Aditya Nugroho.
Kota Malang yang dikenal dengan tradisi kuat binaraga, tetap menjaga eksistensi melalui medali emas dari Vicky Arif Verdiansyah di kelas 70 kg. Sementara satu-satunya emas Surabaya diperoleh lewat aksi M. Yousif di kelas 175 cm.
Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Jawa Timur, Raja Siahaan, menyebut kompetisi tahun ini sebagai yang paling kompetitif dalam satu dekade terakhir.
“Peta kekuatan binaraga di Jatim kini jauh lebih merata. Kabupaten-kabupaten yang sebelumnya tidak diperhitungkan, mulai mencuri panggung. Ini perkembangan positif,” kata Raja.
Menurutnya, kemunculan wajah-wajah baru dan meningkatnya persaingan antarkontingen menjadi indikasi bahwa cabang binaraga kini semakin diminati generasi muda. Raja menambahkan bahwa PBFI Jatim akan terus mendorong kompetisi antarwilayah sebagai bagian dari pembinaan.
Dengan hasil ini, Kabupaten Malang bukan hanya mempertahankan reputasi sebagai pusat kekuatan binaraga Jatim, tetapi juga menegaskan bahwa gelar juara bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan hasil dari konsistensi dan strategi jangka panjang yang terencana. Binaraga Jawa Timur pun tampaknya tengah memasuki era baru: era persaingan tanpa dominasi tunggal yang stagnan. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih