Duka di Selat Bali: Ketika Malam Menelan KMP Tunu Pratama Jaya

MERAHPUTIH I BANYUWANGI — Malam itu laut tampak tenang, tanpa amarah. Namun di balik kediamannya, Selat Bali menyimpan tragedi. Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang mengangkut puluhan orang, nyaris tiba di tujuan sebelum akhirnya karam di perairan dingin dan gelap, menambah daftar panjang kecelakaan laut di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

Hingga Kamis (3/7) siang, Posko Operasi SAR Gabungan yang didirikan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, mencatat sebanyak 35 orang ditemukan selamat. Namun duka belum berakhir. Empat jasad juga ditemukan, sementara sejumlah lainnya masih dalam pencarian.

“Pencarian terus dilakukan. Fokus kami saat ini adalah menyisir area hingga ke bagian selatan perairan, memperluas jangkauan karena kemungkinan korban terseret arus,” ujar Koordinator Pos SAR Banyuwangi, Wahyu Setia Budi, Kamis pagi.

KMP Tunu Pratama Jaya lepas sauh dari Pelabuhan Ketapang pada Rabu (2/7) malam sekitar pukul 22.56 WIB. Dalam manifes tercatat 53 orang penumpang, 12 kru, serta 22 unit kendaraan. Tujuannya adalah Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali—lintasan pendek yang setiap harinya dilalui ratusan kendaraan dan ribuan penumpang.

Namun, pada pukul 23.35 WIB, sebelum sempat menepi di Gilimanuk, kapal itu dilaporkan tenggelam. Belum jelas penyebab pasti kecelakaan, namun investigasi tengah dilakukan oleh otoritas terkait, termasuk dari Kementerian Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Bagi sebagian penumpang yang selamat, malam itu berubah menjadi mimpi buruk. Saksi mata menyebutkan bahwa kapal mulai kehilangan kendali beberapa menit sebelum tenggelam. Sebagian orang mulai panik, lainnya berusaha mencari jaket pelampung, dan sebagian lagi nekat terjun ke laut.

"Semua gelap. Saya hanya dengar teriakan. Lalu air sudah naik ke dek tempat saya berdiri," kata Supardi (42), salah satu penumpang selamat asal Banyuwangi, dengan suara bergetar. Ia berhasil diselamatkan oleh nelayan yang ikut dalam operasi pencarian dini hari.

Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD, dan relawan potensi SAR langsung bergerak cepat. Evakuasi korban dilakukan baik melalui kapal penyelamat maupun nelayan setempat yang ikut memberikan bantuan.

Korban selamat dan yang telah ditemukan dievakuasi ke Pelabuhan Gilimanuk untuk mendapatkan perawatan medis dan identifikasi lebih lanjut.

Lintasan Ketapang-Gilimanuk merupakan jalur penyeberangan tersibuk yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Dalam sehari, tak kurang dari 150 ribu orang menyeberang lewat jalur ini, baik untuk keperluan wisata, distribusi logistik, maupun aktivitas ekonomi lainnya.

Namun dalam dua dekade terakhir, jalur ini tak luput dari insiden. Data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi menunjukkan, terdapat setidaknya lima kecelakaan kapal besar di Selat Bali sejak tahun 2000.

“Keselamatan penyeberangan bukan hanya soal kelayakan kapal, tapi juga kesiapan menghadapi cuaca, kepadatan penumpang, dan prosedur darurat,” ujar pengamat transportasi laut, Capt. Ridwan Setiabudi.

Sementara itu, suasana haru menyelimuti posko keluarga korban di Ketapang. Di antara isak tangis dan wajah lelah, banyak di antara mereka yang masih berharap kabar tentang orang terkasih.

"Anak saya naik kapal itu. Dia dari Surabaya, mau kerja di Denpasar," ujar Ningsih (54), yang menunggu kabar anaknya yang belum ditemukan. "Tolong, tolong carikan dia. Hidup atau mati, saya ingin tahu..."

Pencarian akan terus dilanjutkan selama tujuh hari sesuai prosedur standar SAR. Dalam prosesnya, tim juga memanfaatkan teknologi sonar bawah laut untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan badan kapal maupun korban di dasar perairan.

Kementerian Perhubungan menyatakan tengah melakukan investigasi menyeluruh. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan belasungkawa dan memastikan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan akan dilakukan.

“Ini tragedi kemanusiaan yang tak boleh terulang. Kami akan mengaudit ulang semua aspek operasional lintasan ini,” katanya.

Sementara itu, PT. ASDP Indonesia Ferry sebagai operator pelabuhan juga diminta lebih ketat dalam mengawasi kelayakan kapal dan kepatuhan terhadap SOP keselamatan laut.(RED)

Editor : Redaksi