Teknologi Pengenal Wajah KAI Tekan Penggunaan Kertas Tiket Dorong Inovasi Digital Ramah Lingkungan
MERAHPUTIH I JAKARTA — Pemanfaatan teknologi pengenal wajah (face recognition) pada layanan transportasi kereta api terus meningkat. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2025, sebanyak 5,44 juta pelanggan menggunakan sistem tersebut. Selain meningkatkan efisiensi layanan, penerapan teknologi ini juga memberi dampak positif terhadap lingkungan.
Menurut data PT KAI, penggunaan sistem pengenal wajah selama semester pertama 2025 telah menghemat 12.953 rol kertas tiket. Jika dikonversi dalam nilai ekonomis, jumlah tersebut setara dengan penghematan Rp194,2 juta yang sebelumnya dikeluarkan untuk mencetak tiket fisik.
“Setiap rol kertas yang tidak digunakan berarti semakin sedikit pohon yang ditebang, dan semakin kecil pula emisi karbon yang dihasilkan,” kata Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, dalam keterangan tertulis, Selasa (1/7/2025). Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Penggunaan teknologi pengenal wajah di layanan KAI pertama kali diperkenalkan pada 2022. Sejak saat itu, tercatat lebih dari 15,5 juta pelanggan telah memanfaatkan fitur ini, dengan total penghematan 36.954 rol kertas atau senilai lebih dari Rp554 juta.
Tahun demi tahun, tren pengguna layanan ini menunjukkan peningkatan. Pada 2023, sebanyak 2,92 juta pelanggan menggunakan sistem pengenal wajah. Jumlah ini naik signifikan menjadi 7,14 juta pelanggan pada 2024.
Menurut Anne, antusiasme masyarakat terhadap inovasi ini menunjukkan penerimaan terhadap digitalisasi layanan, sekaligus meningkatnya kesadaran akan pentingnya upaya pelestarian lingkungan. “Teknologi ini bukan sekadar alat bantu perjalanan, tetapi juga medium edukasi dan kontribusi nyata terhadap lingkungan,” ujarnya.
Selain fitur pengenal wajah, KAI juga mengembangkan fitur lain berbasis keberlanjutan. Di antaranya adalah fitur carbon footprint pada aplikasi Access by KAI yang memungkinkan pelanggan melacak emisi karbon dari perjalanan mereka. KAI juga menyediakan Water Station di sejumlah stasiun guna mendorong penggunaan botol minum isi ulang dan mengurangi sampah plastik sekali pakai.
Terkait keamanan data pribadi, Anne menegaskan bahwa sistem pengenal wajah telah menerapkan standar ISO 27001 untuk manajemen keamanan informasi. “Data pelanggan, termasuk nama, NIK, dan foto, hanya digunakan untuk proses boarding dan disimpan maksimal satu tahun. Setelah itu akan dihapus otomatis. Pelanggan juga dapat menghapus datanya lebih cepat secara mandiri melalui aplikasi atau dengan bantuan petugas di stasiun,” tuturnya.
KAI menyebut, seluruh inovasi digital yang dilakukan bertujuan untuk menciptakan ekosistem transportasi yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. “Kami percaya bahwa transformasi digital dapat berjalan beriringan dengan agenda hijau. Setiap langkah kecil akan memberi dampak besar jika dilakukan secara konsisten,” kata Anne. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih