Menggenggam Harapan di Sekolah Rakyat: Jalan Sunyi Menuju Masa Depan
MERAHPUTIH I SURAKARTA - Sore itu, langit Surakarta mulai meredup. Di halaman Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17, di tengah hiruk-pikuk siswa yang pulang selepas aktivitas harian, seorang gadis tampak terdiam. Di sudut halaman, Paris Erin Najma menyeka air matanya. Bukan karena sedih, tapi haru.
“Ayah punya tiga anak, dan aku yang sulung. Sekolah ini sangat membantu,” ujar Paris pelan, suaranya bergetar. Ia bicara bukan soal nilai atau prestasi, melainkan tentang harapan. Tentang satu ruang yang disediakan negara, agar ia tetap bisa belajar, meski hidup menghimpit.
Paris adalah satu dari 200 siswa yang kini menimba ilmu di SRMA 17 Surakarta, sebuah institusi pendidikan alternatif yang baru saja diresmikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Sekolah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jembatan bagi anak-anak dari keluarga rentan menuju masa depan yang lebih baik.
Ayah Paris bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Dengan penghasilan yang tak menentu dan tanggungan tiga anak, pendidikan sering kali jadi kemewahan yang sulit dijangkau. Tetapi di sekolah rakyat, semua disediakan dari seragam hingga sabun mandi. Bahkan makanan pun datang tepat waktu.
“Saya nggak perlu mikir biaya. Saya hanya fokus belajar,” ucap Paris sambil tersenyum, setelah tangisnya reda. Ia kini hidup di asrama sekolah, mendapat pendampingan guru dan wali asuh, serta akses pendidikan yang layak tanpa beban finansial.
Cerita serupa datang dari Erzya Putri Setiani. Ayahnya berdagang kecil-kecilan, dan ibunya mengurus rumah. “Kadang dagangan laku, kadang nggak. Saya bersyukur bisa sekolah di sini,” kata Erzya.
Dengan fasilitas lengkap dan lingkungan yang mendukung, Erzya merasa menemukan ruang belajar yang ideal. Bahkan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti handuk, deodoran, hingga sabun cuci tersedia tanpa biaya. “Ini bukan sekadar sekolah, ini rumah kedua yang membuat saya yakin masa depan bisa digapai,” tambahnya.
Sementara itu, Danindra Hanif Saputro menuturkan alasannya masuk sekolah rakyat karena sang ayah terkena stroke sejak ia duduk di bangku SMP. “Saya ingin meringankan beban orang tua. Di sini saya tidak hanya belajar ilmu, tapi juga belajar hidup,” kata Hanif.
Kepala SRMA 17 Surakarta, Septhina Shinta Sari, menjelaskan bahwa seluruh siswa tinggal di asrama dan mengikuti kegiatan dari pagi hingga malam. “Kami ingin mendidik karakter mereka, bukan hanya memberikan pelajaran akademik,” katanya.
Dengan 20 guru dan 12 tenaga pendidik, mereka mengelola proses belajar-mengajar bagi 117 siswa putra dan 83 putri. Fasilitas seperti perpustakaan, laboratorium, hingga masjid tersedia. Namun yang lebih penting, menurut Septhina, adalah pendampingan dan perhatian penuh terhadap kebutuhan anak-anak.
“Tak ada pungutan. Semua dibiayai negara. Ini bentuk nyata hadirnya negara untuk kelompok miskin,” tambahnya.
Program Sekolah Rakyat adalah gagasan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, bekerja sama dengan Kementerian Sosial RI. Kepala Dinas, Sadimin, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memangkas rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarga prasejahtera.
“Awalnya kami buka di sembilan titik: Surakarta, Temanggung, Wonosobo, Banyumas, Magelang, Kota Magelang, Pati, Blora, dan Banjarnegara. Semuanya gratis, dan untuk keluarga yang benar-benar miskin,” ujar Sadimin.
Ia meyakini, bahwa program ini bukan sekadar memberi sekolah, tapi memutus mata rantai ketidakberdayaan struktural yang kerap diwariskan antargenerasi.
Di tengah krisis biaya pendidikan dan naiknya harga kebutuhan pokok, Sekolah Rakyat menjadi oase. Bukan hanya menyediakan bangku belajar, tapi juga membangunkan mimpi anak-anak seperti Paris, Erzya, dan Hanif, anak-anak yang tak meminta dilahirkan dalam kekurangan, tapi terus belajar untuk tumbuh dalam keberanian.
Dan di balik mata yang berkaca-kaca itu, ada seberkas cahaya: bahwa masa depan bisa dibangun dari ruang-ruang sederhana, selama negara masih mau hadir untuk mereka yang paling membutuhkan. (red)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih