Logo Hari Jadi ke-80 Jateng Terinspirasi Kepodang Emas, Simbol Ngopeni dan Nglakoni
MERAHPUTIH I KLATEN – Perayaan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah tahun ini hadir dengan sentuhan simbolis yang sarat makna. Bukan sekadar angka di atas kertas, logo “80” yang menjadi identitas resmi peringatan ini lahir dari tangan kreatif warga Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Sang pembuat, Yusup Kristiyanto, mengemas angka itu menyerupai burung Kepodang Emas, satwa khas Jawa Tengah yang dikenal anggun, bersuara merdu, dan penuh kepedulian pada anaknya.
Bagi Yusup, desain ini bukan sembarang karya grafis. Ia menggambarkan angka delapan sebagai induk Kepodang Emas dan angka nol sebagai anaknya. Keduanya bertemu di bagian paruh, melambangkan proses meloloh, memberi makan anaknya. “Itu Ngopeni, supaya bisa bertumbuh. Kepodang Emas juga selalu Nglakoni membersihkan diri, menghilangkan keburukan, demi menjadi lebih baik,” ujar Yusup saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/8).
Makna itu sejalan dengan slogan yang diusung Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yakni Ngopeni Nglakoni Jawa Tengah. Filosofinya sederhana tapi mendalam: merawat yang sudah ada, menjalani kehidupan dengan penuh ketulusan, hingga masyarakat Jawa Tengah menjadi mapan dan terus bertumbuh.
Perjalanan lahirnya logo ini tidak instan. Yusup yang berlatar pendidikan akuntansi di sekolah kejuruan, mengaku menghabiskan berhari-hari corat-coret di kertas HVS. Awalnya ia mencoba berbagai konsep, dari huruf Jawa hingga tokoh pewayangan, sebelum menemukan inspirasi final dari burung Kepodang Emas.
Proses digitalisasi dilakukan di sebuah laptop bekas seharga Rp800 ribu yang dibelinya dari tukang servis. “Kondisinya seadanya. Tapi itu yang saya pakai buat menggambar sampai jadi,” tuturnya sambil tersenyum.
Menariknya, Yusup bukan lulusan sekolah desain. Ia belajar otodidak saat bekerja sebagai office boy di sebuah percetakan di Yogyakarta. Setiap hari ia dikelilingi buku dan kover menarik yang memicu rasa ingin tahunya. “Dari situ saya banyak belajar desain. Bahkan saya pernah bikin buku cerita anak yang dijual di toko-toko,” kenangnya.
Kini, hasil karyanya terpampang di baliho, spanduk, hingga platform digital resmi Pemprov Jawa Tengah. “Saya bangga, saya asli orang Jawa Tengah, dan logo ini untuk tanah kelahiran saya,” tegasnya.
Kepala Diskominfo Jawa Tengah, Agung Hariyadi, menjelaskan bahwa pemilihan logo dilakukan melalui sayembara terbuka. Tujuannya, memberi ruang bagi kreativitas warga sekaligus melibatkan mereka langsung dalam perayaan daerah.
“Setiap tahun kita lakukan sayembara. Untuk HUT ke-80 ini, ada 632 peserta yang mengirimkan karyanya. Semua bagus, tapi dipilih yang paling sesuai dengan filosofi dan tema,” jelas Agung.
Logo pemenang dinilai tak hanya menonjol secara visual, tetapi juga kuat secara narasi. “Maknanya selaras dengan visi-misi Ngopeni Nglakoni Jawa Tengah serta tema Mapan dan Bertumbuh. Logo ini mengajak kita semua membangun daerah dengan kesadaran bersama,” tambahnya.
Perayaan HUT ke-80 Jawa Tengah rencananya akan digelar sederhana namun penuh semangat. Bagi pemerintah provinsi, usia 80 bukan titik akhir, melainkan batu loncatan untuk melangkah ke masa depan yang lebih mapan. Sama seperti anak Kepodang yang tumbuh dan suatu hari akan terbang mandiri.
Yusup menutup perbincangan dengan harapan yang tulus, “Semoga visi dan misi Ngopeni Nglakoni benar-benar dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Biar Jawa Tengah ini terus mapan dan bertumbuh, seperti yang diinginkan semua orang.” (RED)
Editor : Redaksi
Harian Merah Putih