BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat, Atmosfer Indonesia Kian Labil

MERAHPUTIH I JAKARTA – Cuaca Indonesia dalam sepekan ke depan diperkirakan bakal jauh dari kata tenang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya curah hujan di sejumlah daerah. Intensitas hujan bahkan bisa mencapai kategori lebat, lengkap dengan kilat, petir, dan angin kencang.

Peringatan ini disampaikan BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 19-25 Agustus 2024. Menurut lembaga tersebut, dinamika atmosfer global hingga lokal sedang “bergolak” dan saling berinteraksi sehingga menciptakan kondisi atmosfer yang labil.

Peningkatan curah hujan ini tidak datang tiba-tiba. BMKG menjelaskan, fenomena atmosfer global seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) kini berada di fase 3. Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian barat lebih rentan terbentuk awan hujan.

Selain itu, gelombang atmosfer tropis berupa Mixed-Rossby Gravity Wave dan Gelombang Kelvin juga ikut memperkuat pertumbuhan awan. Belum cukup di situ, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) positif turut menandakan meningkatnya aktivitas konvektif, yakni kondisi atmosfer yang rawan melahirkan hujan deras.

“Faktor-faktor tersebut menyebabkan curah hujan meningkat di saat sebagian besar wilayah masih pada periode musim kemarau,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.

Kondisi atmosfer kian diperparah dengan terdeteksinya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra. Siklon ini secara tidak langsung mengubah pola angin, membentuk perlambatan serta belokan angin yang dikenal sebagai zona konvergensi.

Zona konvergensi ini memanjang dari Lampung hingga barat daya Banten, serta beberapa titik lain di Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Di jalur-jalur inilah awan hujan berpotensi terbentuk lebih masif.

Menurut BMKG, berbagai fenomena atmosfer ini saling berinteraksi lintas skala. Di level global, indeks Dipole Mode berada di angka -0,84, yang berarti pasokan uap air dari Samudra Hindia ke wilayah barat Indonesia meningkat.

Di level regional, gelombang tropis masih aktif di beberapa wilayah seperti Lampung, Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Maluku. Sementara gelombang berfrekuensi rendah terpantau persisten di Sumatra bagian selatan, Jawa barat, serta sebagian Indonesia tengah dan timur.

Semua faktor ini, kata BMKG, membuat atmosfer berada dalam kondisi sangat labil sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif dan menghasilkan hujan dengan intensitas bervariasi, dari ringan hingga lebat.

Meningkatnya curah hujan di tengah musim kemarau menjadi fenomena yang harus diantisipasi. Hujan lebat berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.

BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir bandang dan longsor. Sementara para nelayan dan pengguna transportasi laut diimbau memperhatikan kondisi gelombang yang berpotensi meningkat.

“Cuaca ekstrem yang muncul akibat kombinasi faktor global hingga lokal perlu menjadi perhatian semua pihak. Masyarakat diharapkan tetap siaga dan selalu memperbarui informasi cuaca dari BMKG,” tegas lembaga tersebut. (red)

Editor : Redaksi